Sabtu, 14 November 2009

PENJUAL TANGGA BAMBU ITU BERNAMA PAK BARKAH

Ketika lahir, orangtua Pak Barkah pasti berharap anaknya punya banyak rezeki. Hidupnya serba berkecukupan. Nggak heran kalo orangtuanya menamakan dirinya Barkah, yang artinya berkah atau barokah. Penuh limpahan rahmat dan rezeki yang luar biasa dari Allah.

Nyatanya, Pak Barkah hidup serba kekurangan. Sudah lima tahun ini dia menjadi Penjual bambu keliling. Sebelumnya, ia cuma kuli serabutan yang bisa ikut membantu mendirikan rumah, menjadi penggali air pompa, dan pekerjaan kasar lain. Namun belakangan ia lebih memilih jadi Penjual bambu.

Setiap hari Pak Barkah menjual bambu tanpa menggunakan kendaraan alias cuma jalan kaki dari tempat pangkalan bambu di Manggarai ke berbagai tempat, entah itu ke Tebet, Salemba, Cempaka Putih, dan yang paling jauh ke Tanjung Priuk. Semua ia lakukan dengan jalan kaki. Mungkin kalo cuma jalan kaki tanpa beban, ya it's ok kali ya. Itu pun pasti Anda ngos-ngosan juga, ya nggak? Nah, sekarang bayangkan Pak Barkah ini jalan kaki dengan membawa tangga seberat 10 kilo. Mending tangganya cuma 1, tiap hari ia membawa 3 tangga sekaligus, yang berarti beratnya 30 kilo. Luar biasa bukan?


Kebetulan di rumah kami nggak ada tangga dan juga karena faktor kasihan, kami membeli tangga bambu dagangan Pak Barkah ini. Tapi ada satu lagi alasan kami kemudian memberi harga lebih dari harga tangganya, yakni Pak Barkah tetap puasa di bulan Ramadhan. Subhanallah!

Menjajakan dagangan yang lokasi Pembelinya nggak jelas tentu cukup berat, apalagi dagangan yang dibawanya punya beban nggak enteng (30 kilo, bo!). Yang membuat saya miris, nggak setiap hari ada yang membeli tangga Pak Barkah.

"Kalo lagi untung, saya pulang tanpa membawa tangga lagi ke pangkalan," jelas Pak Barkah. "Kalo lagi apes, dari tiga tangga yang saya bawa, yang laku cuma satu. Kadang pernah nggak laku tiga-tiganya."

You know what berapa perak uang yang dikutip dari keuntungan tangga-tangga yang dijual Pak Barkah ini? Limabelas ribu perak, bo! Gokil nggak? Dari Rp 15 ribu itu, ia mengambil Rp 5.000 buat makan siang, karena makan paginya sudah disediakan di pangkalan. Sisanya, sepuluh ribu ia tabung. Harga jual tangganya sendiri adalah Rp 65 ribu. Artinya harga dari pangkalan Rp 50 ribu. Berarti kalo laku ketiga tangga, Pak Barkah mendapat Rp 45 ribu, tapi kalo nggak laku? Hari itu menjadi hari yang penuh cobaan bagi Pak Barkah. Artinya, ia nggak bisa punya uang buat makan siang.

Sebelum berjumpa dengan Pak Barkah di jalan Pramuka, kebetulan kami memang niat mencari tangga buat manjat atap rumah kalo kebetulan ada genteng bermasalah atau tangki air bocor. Eh, ndilalah Tuhan mempertemukan kami dengan Pak Barkah yang sore itu masih memanggul dua tangga bambu.

"Insya Allah saya puasa, Pak," jawab Pak Barkah ketika saya coba pancing dengan menawarkan segelas air, karena nggak tega melihat keringat yang mengucur deras dari kening dan punggungnya.

Luar biasa! Pedagang yang membutuhkan fisik gila-gilaan kayak Pak Barkah mampu berpuasa?! Terus terang saya takjub dan bersyukur, ternyata masih ada Pedagang yang menjalankan perintah Allah di bulan Ramadhan ini. Padahal di sekitar saya, banyak sekali Pedagang yang jelas-jelas tanpa malu nggak berpuasa, padahal kalo saya bandingkan dagangan mereka nggak terlalu membutuhkan fisik yang berat sebagaimana Pak Barkah. Bahkan di kantor saya ada karyawan yang nggak berpuasa, padahal kerjanya cuma duduk di bangku ngurusin budget doang. Sungguh memalukan!

Mengetahui komitmen Pak Barkah pada ajaran Allah, saya dan istri sepakat untuk memberikan uang ekstra, apalagi mendengar ketiga anaknya di kampung merengek minta dibelikan baju baru. Kasihan juga pikir kami. Berapa tangga bambu yang harus dijual dalam sehari buat membeli baju baru kalo tabungan Pak Barkah cuma 10 ribu sehari? Sementara harga baju minimal Rp 30 ribu. Itu baru urusan baju, belum urusan yang lain.

Alhamdulillah, Pak Barkah senang bukan kepalang ketika kami memberikan uang lebih dari harga jual. Semakin senang, ketika kami juga memberikan sepotong kue dan botol air minum buat buka puasa. Berkali-kali ia mengucapkan puji syukur pada Allah. Sampai-sampai tangan saya yang disalami oleh Pak Barkah nyaris nggak dilepas.

"Kuenya saya mau bawa ke kampung. Pasti anak-anak saya suka banget," ujar Pak Barkah.

Pak Barkah, Pak Barkah. Anda lugu sekali ya? Wong seharusnya kue itu buat bukaan Bapak, kok malah mau dibawa ke kampung. Tapi ya, terserah Bapak lah. Yang penting Bapak senang dan kami ikhlas memberi. Sepeninggal Pak Barkah, saya juga bersyukur. Nggak percuma juga istri saya pandai membuat kue. Kue yang kalo beli di toko bisa puluhan bahkan ratusan ribu itu bisa istri saya buat dan diberikan pada orang yang barangkali belum pernah mencicipinya seumur hidup.

photo copyright by Brillianto K. Jaya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar