Sabtu, 27 April 2013

Ngopi Bareng Endriarto Sutarto Ngerumpi soal Konflik TNI Polri sampai Jokowi


Petang lalu, tokoh yang saya jumpai adalah mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia (Panglima TNI) periode 2002-2006, Endriarto Sutarto. Di sebuah ruang VIP, sambil menyeruput kopi, Jenderal lulusan AKABRI 1971 ini berkisah tentang berbagai hal.

Kang Jaya (KJ): TNI-Polri reme lagi nih pak?

Endriarto Sutarto (ES)Ah, itu anak muda-muda. Masa gara-gara melanggar lalu lintas, trus ditembak. Saat ditanya (oleh anggota TNI), apakah penembaknya (oknum polisi) sudah diproses hukum, katanya (pihak kepolisian) sudah. Eh, ternyata belum. Ya, marahlah (anggota TNI).

KJSekarang bapak di Nasdem dan jadi Ketua Dewan Pertimbangan Partai Nasdem. Bapak ngerasa nggak sekarang Nasdem digembosi?

ESSaat ini memang beritanya soal itu. Padahal nggak ada digembosi. Itulah kehebatan Harry Tanoe, sehingga orang-orang melihat Nasdem digembosi dan ia membawa puluhan ribu orang ke Hanura. Padahal faktanya nggak begitu. Banyak juga orang yang masuk ke Nasdem, tetapi memang berita digembosi lebih banyak dimunculkan.

***

Endriarto mengambil kue yang ada di meja. Kue bolu. Selain kue bulu, ada pula aneka kue lain yang disiapkan sore ini. Sambil mencuil-cuil kue, pria yang saat mantan Presiden Soeharto lengser pada 21 Mei 1998 menjabat Komandan Paspampres ini mengajak saya mencicipi kue.

KJ: Bagaimana Bapak melihat Jokowi?

ES: Warga Jakarta menaruh harapan pada dia. Memang masih banyak PR yang harus dikerjakan, seperti kebijakan ganjil-genap. Tetapi yang membuat percaya warga adalah, Jokowi berjanji tidak ada sepersen pun uang Pemda yang dikorupsi olehnya. Dan rakyat percaya itu.

KJ: Seperti Presiden Hugo Chavez ya pak?

ES: Vanezuela itu kaya dengan minyak. Uang hasil penjualan minyak itu nggak buat dirinya atau dibagi-bagi ke anak atau orang-orang terdekatnya, tetapi digunakan untuk kemakmuran rakyat. Orang-orang miskin dibuatkan rumah. Sandang, pangan, dan papan untuk orang-orang miskin dipenuhi oleh Chavez ini.

KJ: Sebelum Jokowi, saya dengar dulu Basofi Sudirman begitu ya pak?

ES: Iya. Percaya nggak percaya, pada saat Megawati dan Basofi ke Jawa Timur, yang dikerubuti warga itu justru malah Basofi. Ia dicintai rakyat. Tapi karena memang pada zaman Orba tidak ada yang boleh lebih popular daripada pak Harto, jadi ya popularitasnya tidak begitu menonjol.

KJ: Sekarang kemana ya pak Basofi itu?

ES: Iya, saya juga nggak tahu.

KJ: Baik, sekarang balik lagi ke Jokowi. Gubernur DKI Jakarta yang baru ini akan menerapkan kebijakan ganjil genap. Gimana komentar Bapak?

ES: Sepertinya kebijakan tersebut harus dikaji ulang. Saya kasih contoh. Seandainya ada orang dari Bandung pakai nomor genap pulang ke Jakarta. Ketika di Jakarta, yang diberlakukan adalah nomor ganjil. Apakah orang ini harus kembali ke Bandung atau nunggu keesokan hari agar supaya nomor mobil genapnya bisa jalan? Contoh lagi, ada seorang yang berpakaian dasi dan jas komplet. Dia tanya, saya tidak pakai mobil pribadi, lalu naik apa? Kalau naik kendaraan umum seperti bus, Anda sudah tahu kondisi bus di Jakarta seperti apa. Paling-paling orang ini naik taksi. Tapi apakah selamanya naik taksi? Jadi, saya pikir harus dicarikan solusinya yang pas.

KJ: Soal Jokowi lagi nih, Pak. Ternyata kepopuleran Jokowi nggak ngaruh buat memenangkan Pilgub di Jabar ya pak?

ES: Hahaha…iya.

Seperti Bloggers ketahui, PDIP memanfaatkan popularitas Jokowi. Partai pimpinan Megawati Soekarnoputri ini mengharap mendulang suara dalam pemilihan Gubernur, baik di Jawa Barat maupun di Sumatera Utara. Namun, ternyata kepopuleran Jokowi di DKI Jakarta tidak mempengaruhi suara di dua provinsi tersebut. Kader-kader PDIP tetap kalah di pemilihan Gubernur.

Tiba-tiba seorang Produser menghampiri Endriarto. Kue yang sedang dicuil-cuil olehnya, kemudian diletakkan di atas meja.

Pak, pemain band sudah siap. Bapak mau coba latihan dulu?

OK!

Ngopi sore kami pun berakhir. Saya dan pak Endriarto masuk ke dalam studio. Setelah berkenalan dengan anggota band, pak Endriarto pun latihan menyanyi. Tentu, lagunya bukan milik Basofi Sudirman, Tidak Semua Laki-Laki. Pun juga bukan lagu SBY yang saya sendiri nggak ada yang kenal…

Selasa, 05 Maret 2013

Kata-kata Romantis Mario Teguh pada Istri Sebelum Shooting

Setiap kali shooting, Mario Teguh selalu melakukan ritual. Bukan meletakkan sesajen di pojok ruang dengan aneka bunga berikut dupa, tetapi ritual yang amat romantis. Dan ritual ini dilakukan kebanyakan di depan para penonton Mario Teguh Golden Ways (MTGW) di Grand Studio, Metro TV.

Wish me luck, love.”

Itulah kata-kata Mario Teguh. Romantis. Terlebih lagi, Mario tak cuma mengucapkan kata-kata tersebut. Namun, pria yang baru saja merayakan ulangtahun ke-57 tahun pada 5 Maret kemarin ini mengecup kening istrinya, Linna.

Good luck, honey,” ujar Linna sambil mencium tangan Mario.

Meski sudah shooting ratusan episode, ritual Mario Teguh itu selalu dilakukan. Kapan terakhir kali Bloggers mengecup kening istri lalu meminta didoakan? Kapan terakhir kali Kompasianers mencium tangan suami dan mendoakan?

Bloggers, kata-kata ‘wish me luck’ yang diucapkan Mario itu bukan lantaran ia pernah tidak beruntung (luck) pada saat shooting. Menurut Linna, hal ini dilakukan Mario pada ibudannya, Siti Maria, saat masih hidup. Tentu saja sebelumnya mengucapkan, basmallah:  bismillaahirohmaanirohiim.

“Dulu sewaktu ibundanya beliau (Mario) masih hidup, doa ibundanya selalu beliau mintakan sebelum melakukan sesuatu hal baru,” jelas Linna. “Setelah punya istri beliau kehilangan ibunda, dan kebetulan saya selalu mendampingi beliau pada saat shooting MTGW atau seminar, atau acara apa saja, sebelum naik panggung.”

Bagi Mario, sang istri saat ini telah menjadi pengganti ibundanya yang telah wafat. Meski sosok ibudanya tak bisa tergantikan, tetapi doa istri sebelum shooting, sangat membantu dalam kesuksesan suami. Bukankah ada seorang istri setia di balik kesuksesan suami?

Bloggers, kesetiaan Linna pada Mario memang sungguh luar biasa. Hampir setiap aktivitas yang dijalankan oleh Mario, Linna hadir. Menurutnya, hampir sembilanpuluh sembilan persen hadir, kecuali ada tugas mendadak yang mengharuskan ia berada di tempat lain. Tapi itu pun tidak pernah lebih dari 2 sampai 3 jam saja.

“Itu memang janji saat pernikahan kami dulu,” ujar Linna.

Begitu cintanya Mario pada Linna, begitu pula sebaliknya. Itulah yang Linna suka pada Mario, kasih sayang. Bukan cuma pada istri, tetapi juga pada anak-anaknya, Audrey dan Marco. Apa yang dilakukan oleh Motivator yang memiliki penggemar Facebook terbesar ini tentu bisa kita jadikan contoh. Bloggers, setelah mengecup kening sang istri, Mario menutup dengan mengucap dengan lembut,

I love you as always.

Senin, 04 Maret 2013

Film “Di Balik Frekuensi”: Menggugat Praktik Monopoli Frekuensi

“Tanah, air, udara kekayaan adalah milik Negara..

Bloggers, kalimat yang dicuplik dari Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 33 ayat 3 tersebut agaknya menjadi dasar gugatan Ucu Agustin dalam film Di Balik Frekuensi. Ini sangat jelas tergambar dalam adegan pembuka di film berdurasi 144 menit ini. Nampak seorang berseragam merah yang membelakangin kamera, sedang menyusun akhir dari Pasal 33 di lantai (”dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat“), sementara di punggungnya terdapat tulisan pembukaan ayat 3 tersebut. 

Meski dalam Pasal 33 tidak terdapat kata “udara” (kalimat asli di Pasal 33: “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara“), sebagai sutradara, ia tetap merasa geram melihat realita kekinian, dimana para pemilik modal menguasai udara (yang diterjemahkan oleh Ucu sebagai “frekuensi”), terutama frekuensi di televisi. Siaran televisi tidak lagi dijalankan untuk kepentingan publik, tetapi menurutnya justru menyuarakan kepentingan para pemilik modal, dalam hal ini politikus selaku pemilik televisi. Melalui film dokumenter ini, mantan jurnalis majalah berita Pantau (kajian media dan jurnalisme yang didirikan oleh Institut Studi Arus Informasi/ ISAI) ini menggugat praktek monopoli, oligopoli, maupun praktek kartel dalam bidang pengelolaan sumber daya alam (dalam hal ini frekuensi), bertentangan dengan prinsip Pasal 33 UUD 1945.

Dua tokoh yang mewakili “gugatan” Ucu adalah Luviana dan Heri Suwandi. Luviana adalah seorang jurnalis Metro TV, stasiun televisi yang dimiliki oleh Ketua Umum Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Paloh. Sementara Heri Suwandi adalah warga korban lumpur Lapindo. Meski kasus kedua tokoh ini berbeda, namun dengan cerdik Ucu bisa menyatukan benang merah kisah, yakni dengan tema mencari keadilan. 

Dalam kasus Luviana, Ucu memperlihatkan perjuangan karyawan Metro TV itu berjuang mencari keadilan. Ia mencoba membimbing penonton untuk bersama-sama melihatperjalanan Luviana, baik ketika berdemo di depan kantor Metro TV, melakukan negoisasi dengan HRD, sampai berjumpa dengan Surya Paloh di kantor Nasdem. Semua peristiwa tersebut terdokumentasi secara detail oleh sang sutradara.

Bloggers, nampak sekali “kerajinan” Ucu mendokumentasikan perjalanan Luviana ini, sampai-sampai ia juga mendokumentasikan ketika Luviana dicegat petugas keamanan di Metro TV melalui kamera tersembunyi. Namun, ada juga kamera yang dengan sengaja disembunyikan di dalam tas Luviana, agar pihak keamanan Metro TV tidak curiga ada “orang luar” menyelinap masuk ke dalam kantor Metro TV. 

“Kerajinan” Ucu dalam mengumpulkan footage (stok gambar) terlihat pada dokumentasi Heri Suwandi. Sutradara wanita ini “berhasil” mengumpulkan footage sejak Hari melakukan ruwat mandi lumpur di lokasi utama lumpur Lapindo, sampai dokumentasi perjalanannya dari Porong, Sidoarjo di beberapa lokasi, sejumlah footage Hari mengusir jurnalis tvOne, serta footage interview Hari dengan tvOne di program Apa Kabar Indonesia (AKI) Malam.

Ada sekitar 344 footage yang Uci miliki. Jumlah footage yang banyak ini kemudian ia pengal-penggal menjadi 144 menit untuk durasi film yang diproduseri Ursula Tumiwa ini. Selain footage dari hasil shooting-nya sendiri, Ucu juga mengambil stock shot cuplikan dari YouTube.

Untuk footage-footage saya juga dibantu oleh KPI,” jelas Ucu. Selain Ford Foundation, film ini juga disokong oleh KPI.

Di Balik Frekuensi memberikan sudut pandang pada penonton mengenai kebijakan frekuensi yang menurut Ucu telah dimonopoli segelintir orang. Dalam riset yang dimunculkan dalam grafis di film ini, ia menyebutkan hanya 12 orang saja yang mengusai media di tanah air. Mereka adalah Erik Tohir dari Group Mahaka, Jacob Oetama (Kompas-Gramedia), Pia Alisjahbana (Femina Group), Adiguna Sutowo (MRA Group), Goenawan Muhammad (Tempo Group), Harry Tanoesoebroto (MNC Group), Surya Paloh (Media Group), Aburizal Bakrie (VivaNews: ANTV, tvOne, dan VivaNews.co.id), Fofo Sariaatmadja (PT. Elang Mahkota Komputer/ Emkom), Dahlan Iskan (Jawa Pos Group), Chairul Tanjung (TransCorp), dan Mochtar Riady (Lippo Group).

Pemilik media itu-itu saja, ujar Ezki Tri Rezeki Widianti dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang muncul di film ini. “Kalau di KPI kami mengatakan hanya lima orang yang memiliki media di Indonesia dari segitu banyak televisi. Sebenarnya menurut Undang-Undang Penyiaran itu melanggar ya.”

Saat interview dengan Ezki, Ucu menyelingi footage iklan Nasdem dan grafis jumlah iklan Partai Nasdem periode awal Oktober sampai akhir November 2012 di MNC Group, baik di RCTI, MNC, Global, dan juga di Metro TV. Juga grafis jumlah iklan Partai Golkar yang muncul di stasiun televisi milik Bakrie Group, yakni tvOne dan ANTV. 

Bloggers, untuk menguatkan gugatan terhadap monopoli frekuensi, Ucu juga sempat mewawancarai Peneliti Senior Bidang Inovasi & Perubahan Sosial Universitas Manchester Yanuar Nugroho. Menurut Yanuar, ia tidak bisa membayangkan pada Pemilu 2014 nanti, dimana media-media yang seharusnya bisa lebih objektif, tetapi dianggap menjadi subjektif, karena media-media dikuasai oleh para politikus.

Media jadi kanal kekuasaan. Manifestasi kekuasaan diwujudkan ke dalam isi tayangan,” tambah Yanuar. “Implikasinya bukan cuma frekuensi saja, tetapi apa yang ditonton oleh publik, warga, bukan lagi apa yang layak mereka tonton, melainkan mereka tidak punya pilihan lain selain nonton itu. Nampaknya pemerintah kita tidak punya visi tentang media. Yang terjadi adalah penggabungan antara pembiaran dan ketidakberdayaan di depan kekuasaan bisnis.”

Sebenarnya persoalan penguasaan frekuensi oleh pemilik modal memang bukan cuma di Indonesia. Di negara-negara maju pun monopoli frekuensi juga dilakukan. Sebut saja News Corp yang menguasai puluhan media, mulai dari media cetak, elektronik, film, dan social media. Pada 2005, perusahan yang dimiliki Rupert Murdoch ini sempat membeli MySpace seharga US$ 580 atau saat itu sekitar Rp 5,2 triliun. Selain NewsCorp, konglomerasi media di dunia juga dikuasai Viacom, Time-Warner, Bertelsmann Inc., dan juga Disney. Namun agaknya Ucu ingin memotret penguasaan frekuensi di tanah air yang dianggap tidak sesuai dengan semangat UUD 1945 Pasal 33 itu.

Tidak ada sama sekali motif politis di balik film ini,” papar Ucu yang penulis hubungi via telepon (Juma’at, 22/2/2013) sore ini. “Kebetulan sebelum saya pernah membuat film tentang permasalahan media berdurasi 18 menit, tetapi waktu itu tidak fokus.”

Di Balik Frekuensi menjadi film dokumenter panjang pertama di Indonesia dengan durasi 144 menit, yang khusus mengangkat masalah media, terutama media televisi. Film produksi Cipta Media Bersama yang didukung oleh Ford Foundation dan Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) ini mulai produksi sejak 15 Desember 2011 hingga 25 November 2012. Pada 17 Januari 2013 lalu, Di Balik Frekuensi sempat screening di Blitz Megaplex.

Ucu Agustin sendiri bukanlah nama baru di dunia film dokumenter. Nama wanita lulusan IAIN Syarif Hidayatullah jurusan aqidah/ filsafat ini sudah popular di kalangan indie film maker. Jauh sebelum Di Balik Frekuensi, wanita kelahiran Sukabumi, 19 Agustus 1976 ini sudah memproduksi film-film dokumenter berkualitas. 

Film dokumenter pertama wanita yang selalu mengangkat isu sosial ini berjudul Death in Jakarta. Film berdurasi 28 menit ini berkisah tentang pengalaman fakir miskin ketika ada keluarga yang meninggal. Death in Jakarta diproduksi setelah terpilih sebagai satu dari empat skenario terbaik di Jakarta International Film Festival (JIFFEST) Script Development Competition. Dengan uang hadiah hasil lomba senilai Rp 25 jutam Ucu membuat film tersebut.

Film berikutnya berjudul Ragat’e Anak, yakni dokumenter tentang pekerja seks di Gunung Bolo, Tulungagung, Jawa Timur. Film ini adalah satu dari empat film dokumenter pendek yang ada dalam antologi Pertaruhan (judul internasionalnya At Stake) yang diproduseri Yayasan Kalyana Shira. Di film ini, Ucu mengugat pemerintah setempat yang menutup secara sepihak lokalisasi pada 4 Juni 2009. Film ini sempat masuk dalam sesi Panorama Documente pada festival film di Jerman.

Konspirasi Hening atau Conspiracy of Silence adalah film Ucu yang bercerita tentang malpraktek di dunia kedokteran di Indonesia. Film yang diproduseri oleh Nia Dinata ini mengambil pernyataan Kartono Mohammad, mantan ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dimana terjadi “konspirasi hening” yang membuat semua peraturan di Indonesia tentang pelayanan kesehatan menjadi tidak dapat ditegaskan. Sebagai tokoh, Ucu mengikuti kehidupan tiga orang, dua orang mengalami malpraktek dan satu orang miskin yang tidak bisa mendapatkan akses layanan kesehatan.

Satu film dokumenter lain garapan Ucu sebelum Di Balik Frekuensi adalah Batik: Our Love Story. Film yang diproduksi pada 2011 ini ia bekerjasama lagi dengan Nia Dinata. Di film ini, Nia bertugas sebagai sutradara, sementara Ucu sebagai penulis skenarionya.

Di Balik Frekuensi memakan biaya total Rp 800 juta. Namun, menurut Ucu, angka segitu termasuk biaya promosi dan roadshow yang akan dilakukan ke beberapa kota. Selain Jakarta, film ini akan diputar keliling ke Bandung, Yogya, Solo, Semarang, Malang, Sidoardjo, Surabaya, dan juga Bali.

Khusus di Sidoardjo, kami akan memutar dengan menggunakan layar tancap,” ujar Ucu, yang saat ini tengah memproduksi film dokumenter anak-anak berjudul Pertunjukan Terakhir yang akan dirampungkan sekitar April 2013 ini.

Beberapa kejutan yang menurut saya menarik di film Di Balik Frekuensi adalah ketika tiba-tiba Hari Suwandi akhirnya menyerah. Pria yang telah berjalan kaki dari Porong, Sidoardjo ke Jakarta dianggap oleh Harto Wijono sebagai penghianat perjuangan. Betapa tidak, Hari yang awalnya digambarkan antipati terhadap wartawan tvOne (kesan ini ditunjukkan dalam berberapa footage Hari mengusir jurnalis tvOne muncul di film ini), tiba-tiba muncul di acara AKI Malam. Di program tersebut ia meminta maaf kepada Aburrizal Bakrie dan keluarga Bakrie, karena selama ini telah menghina. Bagi penonton, footage permohonan maaf Hari tersebut membuahkan kesimpulan: (1) ia mendapat tekanan; atau (2) uang telah memperdayainya, sehingga perjuangannya selesai. Berbeda dengan perjuangan Luviana yang digambarkan belum selesai.

Kejutan lain adalah sosok Hary Tanoe yang di film ini masih merapat dengan Partai Nasdem. Tentu saja, bukan saja penonton yang terkejut, begitu paska produksi film ini kelar, Ucu pun ikut terkejut dengan perpindahan HT (sebutan Hary Tanoe) dari Partai Nasdem ke Partai Hanura. Meski monopoli media tetap akan dilakukan oleh HT di MNC Group, namun menurut penulis, agar film ini update, sebelum roadshow, butuh di-reedit. Namun, menurut Ucu film ini tidak diedit ulang.

Di akhir film, Ucu mencoba mengingatkan kembali penonton, pentingnya serikat pekerja. Dengan menampilkan tokoh baru, anak muda fresh graduated yang sangat berharap untuk bekerja sebagai jurnalis di Metro TV, Ucu memaparkan riset AJI Indonesia tentang kondisi serikat pekerja pers di Indonesia. Bahwa saat ini terdapat sekitar 1500 perusahan media, tetapi dari ribuan hanya ada 28 serikat pekerja pers. 

Melalui penokohan anak muda ini, Ucu seolah ingin mengatakan, betapa kasihan anak muda ini jika ia tahu fakta sesungguhnya sebagai karyawan di dunia media yang tidak memiliki serikat pekerja. Kritik inilah yang akhirnya menjadi esensi film Di Balik Frekuensi, selain masalah monopoli frekuensi. Melalui dokumenter ini pula, penonton akan diperlihatkan secara blak-blakan, untuk siapa para karyawan itu bekerja. 

Film “ARGO”: Rekayasa Sejarah Operasi Intelegen CIA di Iran

Gagasan itu lahir beberapa detik paska Tony Mendez (dibintangi oleh Ben Affleck), seorang staf khusus CIA, bercakap-cakap dengan putranya melalui telepon. Saat berkomunikasi, ia memutar kanal televisi yang kebetulan juga sedang ditonton oleh putranya. Sebuah film fiksi ilmiah berjudul Battle for the Planet of the Apes. Gagasan membuat film fiksi ilmiah itulah yang kemudian ditawarkan di depan pejabat CIA.

Awalnya, para pejabat dari CIA meragukan strategi Mendez. Harap maklum, strateginya tidak lazim. Untuk mengeluarkan staf kedutaan besar Amerika Serikat (AS) dari Iran butuh strategi yang lebih canggih. Bahwa dikisahkan, sejumlah kelompok militan Iran menyerang kedutaan besar AS. Lebih dari 50 staf disandera, tetapi ada enam staf yang berhasil melarikan diri. Mereka kemudian disembunyikan di rumah duta besar Kanada Ken Taylor (Victor Garber).

Oleh karena CIA tidak mendapatkan gagasan lain, walhasil, gagasan membuat film fiksi ilmiah palsu pun dilakukan. Guna menjalankan strateginya, Mandez meminta bantuan John Chambers (John Goodman), piƱata rias Hollywood yang sebelumnya telah bekerja sebagai penyamar untuk CIA. Lewat Chambers, Mandez juga dikenalkan pada Produser film bernama Lester Siegel (Alan Arkin). Mereka bertiga mendirikan sebuah rumah produksi palsu, dimana mereka akan membuat rencana seputar produksi film fiksi ilmiah palsu.

Argo, begitu judul film fiksi ilmiah palsu ini. Seperti juga awal ketika pertama kali presentasi ke para pejabat CIA, begitu berjumpa dengan keenam staf kedutaan besar AS, Mandez tidak begitu saja dipercaya. Mereka ragu dengan strateginya. Namun, ia akhirnya bisa meyakinkan keenam staf tersebut. Mereka pun dilatih untuk menyamar, seolah bagian dari tim produksi film fiksi ilmiah. Ada yang berperan sebagai sutradara, penata fotografi, sampai location manager. Selain jabatan, identitas mereka pun disamarkan.

Film ini dipublikasikan berdasarkan fakta yang terjadi pada akhir 1979, beberapa saat setelah Shah Iran digulingkan. Namun sebaliknya, pihak Iran merasa “kecolongan” dengan peredaran film ini. Menurut mereka, Argo bertentangan dengan fakta yang sebenarnya.

Ataollah Salmanian, aktor dan sutradara Iran, mengatakan, fakta sesungguhnya adalah, terjadi peristiwa Revolusi Islam di Iran yang terjadi pada 4 November 1979, tetapi yang menyandera bukan Tentara Revolusioner Islam. Pada kejadian penyerangan dan pengambil alihan kedutaan besar AS adalah mahasiswa. Mereka pula yang menyandera staf AS selama 444 hari. Tentara Revolusioner Islam justru yang menyerahkan 20 staf yang disandera ke Kedubes AS.

Mahasiswa yang militan ini protes, karena AS mendukung penuh diktator Shah Reza Pahlevi. Setelah digulingkan, pemimpin penggantinya, Ayatollah Khomeini, menyatakan sangat anti-AS. Saat itu, Khomeini menyebut AS sebagai The Great Satan dan Enemies of Islam. Gara-gara peristiwa tersebut dan pidato-pidato Khomeni, AS sempat melakukan tekanan diplomatik dan ekonomi dengan menghentikan impor minyak.

Iran pun tak kalah garang. Ia mendesak AS untuk memulangkan Shah Reza yang berada di New York City ke Iran. AS tidak boleh melindungi diktaktor tersebut. Shah harus meminta maaf pada seluruh warga Iran. Hal itulah yang membuat AS, terutama CIA harus putar otak untuk membuat cara membebaskan staf kedubes yang disandera. Namun akhirnya, pada 20 Januari 1981, sebanyak 52 warga AS yang disandera dibebaskan dan diserahkan langsung oleh Tentara Revolusioner Islam Iran. Bukan akal-akalan dengan gagasan memproduksi film fiksi ilmiah, sebagaimana film Argo.

Tentang membesar-besarkan peran CIA juga dikecam banyak orang. Wajar memang, karena film ini produksi Hollywood. Padahal, yang justru berperan dalam operasi penyanderaan ini adalah utusan dari Kanada di Teheran. “Ini adalah film mengenai CIA dimana agen operasi tak memiliki senjata. Heroisme akan lebih menarik bila disajikan nyata,” ujar Ben Affleck di New York Times (14 Desember 2012), seolah mengakui terdapat rekayasa fakta via Argo ini.

Menurut Salmanian, naskah untuk film Argo versi Iran sudah selesai dikerjakan. Film “tandingan” ini pun telah mendapat persetujuan dari pusat kebudayaan Iran. Jika budget produksi telah turun, shooting film pun segera dilakukan. Tentu, ini akan menarik, karena film “dibalas” dengan film. Akankah Argo versi Iran ini akan mengalami kesuksesan yang sama dengan karya Ben Affleck? Yang telah meraih dua piala untuk kategori Film Terbaik dan Skenario Adaptasi Terbaik di Academy Awards ke-85 lalu, serta meraih dua piala untuk kategori Film Terbaik dan Sutradara Terbaik di ajang Golden Globe ke-70. Kita tunggu Argo besutan Salmanian ini.

Jumat, 18 Januari 2013

Profil Picture dan Status Terakhir di BB Remy Soetansyah

Ajal Tidak Akan Menunggu Tobatmu

Itulah tulisan yang ada di profil picture terakhir rekan saya, almarhum Remy Soetansyah. Bang Remy -begitu saya dan beberapa orang memanggilnya-, memberikan isyarat pada kami, teman-temannya untuk senantiasa bertobat. Sebab, kematian tidak pernah kita tahu. Kematian adalah rahasia Allah swt. Dan sungguh merugi ketika kita belum sempat bertobat, ajal menjemput kita. Na’udzubillahimindzalik!

Namun, Alhamdulillah almarhum Remy telah bertobat di akhir hayat. Setidaknya itu kesimpulan saya pribadi dan Insya Allah juga teman-teman lain. Kesimpulan ini saya dapat setelah saya BBM-an dengan beliau, gara-gara mempertanyakan statusnya: “Belajar sabar, ikhlas en bersyukur sll”.

Sekarang ini bang Remy nampak religius sekali?” tanya saya via BBM.

Yo’i

Bang Remy memang selalu mengekspesikan kata “IYA” dengan kata “YO’I”. Ini untuk menunjukan di usianya yang sebetulnya sudah tidak muda lagi, ia masih tetap gaul. Dalam obrolan saya via BBM itu, ia kemudian menceritakan betapa dirinya dulu bergelimang dosa dan tak heran belakangan ia mendekatkan diri kepada Allah swt.

Bloggers, saya mengenal bang Remy relatif lama, ketika beliau masih menjadi wartawan tabloid Citra. Tabloid terbitan Gramedia Group ini berisi tentang berita-berita musik dan televisi. Soal musik, semua penyanyi maupun anak band pasti kenal nama Remy Soetansyah. Rekan saya, Naratama menulis di milisnya, “Pada masa 1990an, ada pepatah diantara kalangan artis ‘Kalau belum kenal Remy Soetansyah, jangan pernah mimpi menjadi artis musik Indonesia’”. Saya setuju!

Boleh jadi di kalangan wartawan musik, bang Remy adalah legenda. Betapa tidak, ia bukan saja dikenal sebagai wartawan musik, tetapi juga pencari bakat, kritikus musik, dan mentor dari band-band pemula. Kiprahnya di dunia tulis menulis musik, hiburan, film, dan budaya Indonesia tidak bisa dihitung.

Bukan cuma berkarya lewat tulisan, bersama Produser RCTI senior, Yogi Hartanto, dan Hans Miller, bang Remy menggagas program Infotainment pertama di Indonesia, yakni Kabar-Kabari. Setelah Kabar-Kabari, barulah muncul program-program infotaiment lain. Sampai di akhir hayatnya, (alm) Remy masih tercatat memimpin program infotainmen ini.

Bang Remy terakhir mengirim BBM ke saya saat Idul Adha kemarin. Namun setelah itu, Naratama mengirimkan kabar tentang kondisi bang Remy via milis NaratamaTV@yahoogroups pada 30 Oktober 2012.

Teman2x… 

Sahabat kita, member milis ini, begawan musik infotainment senior bang Remy Soetansyah sedang terbaring tidak sadar di Rumah Sakit akibat penyakit stroke yang datang mendadak. Bang Remy, adalah salah satu tokoh TV Infotainmen Indonesia, beliau adalah salah seorang penggagas dan produser program infotainment pertama di Indonesia, yaitu Kabar Kabari, di RCTI. Bang Remy dikenal sangat dekat dengan karir sejumlah musisi besar seperti Nicky Astria, Atiek CB dan (alm) Harry Roesli. 

Mari kita sama-sama mendoakan agar diberikan kesembuhan dan dikuatkan dari cobaan ini… Aaaammiiin…
Terus berjuang Bang…
Salam Naratama

Seorang anggota milis pemilik akun documenter_heroik@yahoo.co.id kemudian meng-update kondisi bang Remy dengan mengirimkan foto pada Rabu, 31 Oktober 2012 pukul 01:00 wib, yang ia abadikan pada hari sebelumnya, yakni Selasa, 30 Oktober 2012. Foto tersebut menunjukan kondisi terakhir bang Remy di ICU Rumah Sakit Umum Pertamina Pusat (RSPP), Jakarta. Menurut istri almarhum, Ayum Sambuniatri, bang Remy terkena stroke pada Senin (29/10/2012) di tempat bekerjanya, PT Shandika Widya Cinema (PH yang memproduksi program Kabar-Kabari), di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dalam keadaan tak sadar, ia langsung dibawa ke RSPP. Itu merupakan stroke kedua yang dialaminya. Stoke pertama terjadi sekitar lima tahun lalu.

Bloggers, Allah swt berkehendak lain. Tepat pada pukul 18:48 WIB, bang Remy yang bernama asli Koernia Rusmir ini meninggal dunia di RSPP. Innalillahi Wa Innalillahi Rojiun. Allah swt pasti menerima segala kebaikan yang telah bang Remy lakukan. Terlebih lagi, di ujung harinya, teman dan mentor saya ini telah dekat pada Allah swt dan menjalankan perintah dan menjauhkan larangan-Nya.

Selamat jalan bang Remy!

Film "Habibie & Ainun": Wakil Presiden itu Reza Rahardian

Seketika seluruh penonton bioskop pun tertawa, saat foto Reza Rahardian dipasangkan dengan almarhum Presiden Soeharto. Buat saya, barangkali juga mayoritas penonton, scene yang cuma beberapa detik itu seperti ice breaking dari scene-scene sebelumnya. Memang, ada dialog yang juga membuat penonton tersenyum, bahkan tertawa, menyelip di antara scene serius. 

Film Habibie & Ainun ini cukup menarik. Selain sosok Habibie-nya sendiri yang memang fenomena, karena menjadikan Indonesia dikenal di seluruh dunia, juga perjalanan cintanya dengan sang istri: Ainun yang cukup romantis. Dialog-dialog yang diadaptasi dari buku yang berjudul sama, membuat pasangan suami-istri yang kebetulan menonton seakan tersihir. Ingin mengikut jejak cinta mereka berdua.

“Kamu adalah lelaki yang keras kepala. Tetapi jika aku dilahirkan kembali, aku tetap akan pilih kamu,” ujar Bunga Citra Lestari yang berperan sebagai Ainun.

Menurut cucu Habibie, Bunga mirip dengan Ainun. Semua penilaian karakter memang berdasar cucu Pak Habibie, termasuk Reza. Buat saya, di film Habibie & Ainun ini Reza bermain luar biasa. Ia benar-benar menunjukan sosok sebagai actor, bukan sekadar pemain film yang belakangan kebanyakan modal tampang. Meski rambutnya masih tebal dan posturnya yang tinggi sangat bertolak belakang dengan penampakan Habibie, Reza tetap tampil total agar berusaha mirip dengan karakter Habibie.

Kabarnya, melakukan riset selama kurang lebih 1,5 tahun. Dalam riset, ia belajar tentang keseharian Habibie, mulai cara berbicara, makan, tertawa, hingga gesture tangan. Ia lalu belajar bahasa Jerman selama tiga bulan. Selain belajar obrolan sehari-hari, juga belajar berbicara tentang teknik, terutama teknik keretakan pesawat yang menjadi keahlian Habibie.

Hampir seluruh shooting, Habibie hadir untuk mensupervisi, termasuk scene saat Reza menuliskan teori Supersonic.. Habibie ingin angka-angka yang dituliskan harus benar. Tak heran adegan tersebut diulang sampai enam kali. Habibie juga mensupervisi scene ciuman. Urutan ciuman harus tepat, yakni kening, mata kanan, kiri, dan terakhir bibir.

Banyak scene yang menguras air mati. Bagi penonton, terutama perempuan, yang tidak kuat menahan emosi, pasti akan meneteskan air mata. Selain tentunya scene-scene lucu, seperti pemasangan foto Reza saat Habibie diangkat jadi Wakil Presiden Republik Indonesia.

Scene ketika Habibie menuju ke rumah Soeharto di jalan Cendana juga membuat “gaduh” penonton. Memang tidak cukup istimewa, tetapi begitu scene iring-iringan mobil VIP menuju ke Istana dan Habibie duduk di kursi di ruang tamu Cendana, mayoritas penonton berbisik pelan: “Siapa nih yang jadi Soeharto-nya?”. Sampai dengan tokoh Soeharto berbicara dengan Habibie, shot-nya tidak memperlihatkan secara utuh wajah pemeran Soeharto. Ini yang membuat penasaran para penonton, termasuk saya. Dan akhirnya saya baru mendapat jawaban, setelah membaca credit title film Habibie & Aninun ini.

Film yang disutradarai oleh Faozan Rizal ini cukup menarik. Seandainya saja tidak ada built in product, barangkali saya akan memuji detail kostum dan properti di tahun-tahun saat Habibie dan Ainun muda, masa pacaran, maupun saat menjabat jadi Menteri relatif baik. Namun, begitu ada built in product, saya jadi ilfil.
Setidaknya ada sekitar 4 iklan yang coba dibuat selembut mungkin (baca: tidak hard sell). Ada iklan sirop yang muncul sekitar dua sceen, lalu kosmetik. Namun, begitu iklan coklet, saya sebagai penonton langsung flashback dan memperttanyakan tentang produk coklet di tahun itu. Setahu saya belum diproduksi. Termasuk iklan Gerban Tol Otomatis (GTO) di jalan tol, dimana masa Habibie menjadi Menteri maupun Wakil Presiden belum ada.

Selain merasa terganggu dengan built in product, sebenarnya ada hal menarik yang juga luput dari riset film ini. Yakni kebiasaan tidur Habibie dan kebiasaan Ainun pada saat menemani Habibie saat bekerja.
“Meski ketika saya sedang bekerja, ibu selalu menanti saya sambil membaca al-Quran. Ibu baca sekurang-kurangnya satu sampai satu setengah juz,” kenang Habibie yang penulis kutip dari situs Okezone, 17 Agustus 2010.

Dalam film Habibie & Ainun, kesalehan Ainun cuma dua scene dimunculkan. Itu pun di akhir-akhir film, sebelum ia meninggal. Pertama, saat ia berwudhu dan sholat di tempat tidur dan saat ia sudah tidak bisa melakukan apa-apa, tetapi tangan kirinya memegang tasbih. Kesalehan Habibie pun juga ditunjukan cuma satu scene, saat ia menjadi Imam di dalam kamar tempat Ainun dirawat. Namun, nampaknya kebiasaan ini dianggap tidak penting bagi Faozan, maupun Habibie sendiri yang menjadi supervisi film ini.

Anyway, film ini dianggap sukses dari segi jumlah penonton. Dalam 7 hari, film ini berhasil mengumpulkan penonton sebanyak 3 juta orang. Film yang diproduksi MD Entertainment ini menjadi film ke-3 terlaris di 2012 setelah The Raid (1.844.817 penonton) dan film saat ini masih beredar: 5 Cm (2 juta lebih). Namun masih jauh mengalahkan rekor penonton film Laskar Pelangi yang belum tertandingi, yakni lebih dari 5 juta penonton.

Minggu, 04 November 2012

Berkunjung ke Rumah Kebun Aquaponic Fadly Padi

Doomsday preppers!

Begitu kata Andy Fadly Arifudin alias Fadly tentang rumah kebunnya di Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Jelas vokalis band Padi ini, konsep rumah dengan kebun aneka tumbuhan ini sengaja ia buat untuk kebutuhan sehari-hari, terutama kebutuhan akan sayuran organik dan protein hewani.
Kita makan apa yang kita tanam,” ujarnya

Istilah doomsday preppers (DP) atau ‘preppers kiamat’ ini diakuinya, saat ia nonton di National Geographic (Nat Geo), yakni di situs www.gardenpool.org. DP adalah acara reality showdi kanal National Geographic (NatGeo). Konsepnya menggambarkan aktivitas orang-orang yang mempersiapkan diri menghadapi akhir peradaban. Salah satu persiapan adalah memproduksi sendiri kebun berisi tanaman untuk kebutuhan hidup. Sehingga, pada saat musim kelaparan tetap memiliki stok makanan.

Saya pikir (DP) ini sama dgn yang saya bikin. Cuman orang Amerika lebih lengkap. Mereka bersiap untuk kejatuhan Dollar. Saya merasa, kita semua sudah berada di akhir zaman, dimana suatu saat tanaman akan menjadi alat tukar.”

1351074976207649598

Bloggers, terlepas dari fenomena DP, saya beruntung bisa berkunjung ke rumah kebun Fadly Padi siang kemarin. Kebetulan istri saya, Sindhi, yang aktif di #IndonesiaBerkebun mengabarkan pada saya, bahwa komunitas yang bergerak dalam berkebun, ingin melakukan kunjungan ke rumah Fadly. Sudah sejak lama saya ingin melihat rumah kebunnya yang inspiratif ini. Alhamdulillah, impian saya tercapai.

Bloggers, Fadly membangun kebun di atas tanah seluas 386 m2 ini sejak 2012. Di tanah ini, ada bangunanan. Sementara sekitar 150 m2 dipergunakan untuk kebun. Sebelum menjadi kebun, rumah pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 13 Juni 1975 sekadar rumah ‘biasa’, sebagaimana rumah-rumah tetangga sebelahnya. Ada bangunan, plus tanah dengan tanaman ala kadarnya.

Ia membeli rumah kebun yang lokasinya di gang persis di seberang lapangan udara Pondok Cabe ini pada 2007. Saat itu, ia ditawari oleh Dika, pemain bas Ada Band, yang tak lain sepupunya. Si pemilik menjual tanah bersertarumah tua seluas kurang lebih 500 m2. Dari luas itu, Fadly dan Dika membagi dua.

Saya mengambil tanah 386 meter persegi, plus bonus rumah tua ini, sementara Dika mengambil sisanya,” jelas suami Dessy Aulia ini.

1351075062268985443

Dua tahun setelah dibeli, barulah Fadly giat menjadikan rumahnya penuh dengan tanaman. Tak kurang dari pak choy, cabe, sereh, pohon salam, jahe merah, binahong, lengkuas, pandan, tomat, basil, timun suri, kacang panjang, dan kemangi. Ada pula buah-buahan, mulai dari alpukat, sirsak, manggis, jambu, pepaya, pisang ambon, dan durian. 

Alhamdulillah, targetnya kebun ini bisa untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar ayah dari Bilal, Aidan, Fathimah, dan Hasan ini.

Bloggers, melihat aneka jenis tanaman dan buah-buahan yang ada di kebun Fadly ini, jelas sudah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Betapa tidak, ingin memasak sayur, tinggal ambil di kebun. Untuk lauk-pauk, ia juga memiliki kolam ikan. Jika sebelumnya, ia memelihara ikan lele, ketika saya berkunjung, yang ada di kolam adalah ikan nila.

Di kolam ini lela cuma bertahan 2 bulan. Bukan karena mati, tapi kita makanin terus,” papar mantan vokalis Mr. Q. Band dari Surabaya, yang kini sedang mempersiapkan mengelola ribuan lele di dalam sebuah bekas watertoren ini.

13510751001618039604

Dalam mengelola kebunnya, Fadly cukup kreatif. Ia rajin mengumpulkan barang-barang bekas dan memanfaatkannya menjadi pot. Ada bekas bath tube, gentong air, botol minuman mineral, watertoren, dan barang bekas lain. Selain digunakan untuk pot, ia memanfaatkan botol minuman mineral untuk membungkus bambu-bambu yang menjadi penyangga tanaman di kebun itu.

Bambu ini diplastikan supaya tidak kena rayap,” jelas Fadly, yang mengurus kebunnya ini bersama 2 orang lain. “Rayap nggak mungkin masuk, karena nggak ada celah untuk masuk, karena bambu sudah terbungkus plastik. Kalo kena air, bambu juga nggak cepat lapuk. Soalnya kalo penyangga nggak mau cepat lapuk harus pake kayu jati dan itu jelas mahal.

Tentu untuk mengumpulkan, Fadly harus hunting. Namun, katanya, ia hunting jika mau cari kolam dan growbed untuk Aquaponic. Huntingnya pun dekat rumah. Khusus untuk bamboo, ia mengaku punya teman penjual bambu dan lapak barang bekas, dimana biasa mengantarkan botol minuman mineral bekas dan bambu ke rumah kebunnya.

Selama ini, ia belajar berkebun dengan otodidak, termasuk belajar Aquaponic. Khusus Aquaponic, ia belajar dari YouTube dan berbagai sumber internet. Juga dari buku karya Sylvia Bernstein berjudul Aquaponics gardening.

Bagi Bloggers yang belum tahu, Aquaponics adalah campuran antara budidaya ikan atau peternakan ikan dan hidroponik atau budi daya tanaman dengan menggunakan sedikit tanah dalam sistem tertutup. Dengan naiknya harga bahan bakar dan pupuk, sementara pasokan air irigasi berkurang, Aquaponics bisa menjadi alternatif.

Menurut Sylvia Bernstein, “Aquaponics benar-benar merupakan sistem sirkulasi lahan basah, sehingga sistem itu berjalan tepat di tepi danau kami.”


Sistem Aquaponic ini menarik dan semakin banyak orang di seluruh dunia berkebun Aquaponics, dan menikmati hasilnya: pasokan makanan yang sehat, aman dan lezat sepanjang tahun. Di India, Aquaponics dijadikan salah satu kegiatan ekonomi yang tumbuh paling cepat dalam 10 tahun terakhir ini. Menurut Fadly, sibuknya hanya di awal-awal pada saat membangun system. “Setelah itu tingggal menyemai dan menanam. Jadi sebenarnya tidak terlalu menyibukkan.”

Selain tidak menyibukkan jika ssstem sudah berjalan, dari segi pendanaan pun relatif murah meriah. Ungkap Fadly, dana yang dibutuhkan untuk perawatan, paling cuma membayar tagihan listrik dan pembelian benih. Selama berkebun dengan Aquaponic ini, tagihan listriknya setiap bulan sekitar Rp. 200.000. Lalu, tenaga kerja cuma datang 2 kali sepekan.

Mereka datang untuk nge-check mesin pompa.

1351075169437398857

Bloggers, tentu saja, selain fokus berkebun dengan Aquaponic-nya, Fadly tetap bergabung dengan rekan-rekannya: Ari (gitar), Yoyo (drum), Rindra (bas), dan Piyu (gitar) di Padi. Maklumlah, ia adalah pendiri band yang didirikan pada 8 April 1997 ini. Belakangan, ia sedang mengerjakan proyek bersama Rindra, Yoyo, dan Stephan Santoso dengan nama Musikimia.

Kita cuma berempat. Anggotanya memang minimalis, tetapi musiknya maksimalis,” jelas Fadly, yang aliran musiknya seperti Soundgarden atau Led Zeppelin. 

Musikimia ini adalah proyek Fadly dan kawan-kawan selama mengisi kekosongan Padi yang sedang vakum. Band ini sendiri dimanajeri oleh Ari, yang tak lain adalah gitaris Padi, selain gitaris utama: Piyu. Di Musikimia, selain menjadi Manajer, Ari juga bertindak sebagai co-Producer dan fokus di belakang layar. Saat ini mereka sedang mempersiapkan album.

Bloggers, sebelum saya dan teman-teman dari #IndonesiaBerkebun pamit pulang, Fadly sempat ditodong nyanyi. Awalnya ia malu-malu. Namun, karena didesak oleh permintaan para ‘ibu-ibu’, Fadly pun menyerah. Ia pun menyanyi sepotong lagu Padi sambil memainkan gitarnya.