Selasa, 01 September 2015

IWAN FALS, 'KAMPUS TERCINTA', DAN PERS

Pers nggak ada matinya
Pers nggak mungkin mati
Pers nggak ada matinya
Pers nggak mungkin dibikin mati

Itulah lagu Iwan Fals dalam rangka reuni Institut Ilmu Sosial dan Politik (IISIP) angkatan 1970-2000 yang kemarin berlangsung dari pagi hingga malam hari. Bagi Anda yang belum tahu, Iwan dulu sempat berkuliah di perguruan tinggi swasta yang beralamat di Lenteng Agung, Jakarta Selatan ini. Saat itu namanya masih Sekolah Tinggi Publisistik (STP).

IISIP berdiri pada 5 Desember 1953 dengan nama Perguruan Tinggi Djurnalistik (PTD). Pendiri perguruan tinggi ini adalah A.M. Hoeta Soehoet, yakni seorang pimpinan di Perhimpunan Mahasiswa Akademi Wartawan. Pada 4 Mei 1960 nama perguruan diubah menjadi Perguruan Tinggi Publisistik (PTP). Ilmu-ilmu yang dipelajari diperguruan tinggi ini pun berkembang, bukan hanya mempelajari persuratkabaran dan jurnalistik saja, tetapi seluruh ilmu komunikasi. Barulah pada 27 Juli 1985, sekolah yang banyak mencetak jurnalis-jurnalis handal ini menjadi institut dengan nama IISIP.

Iwan sempat keluar dan masuk kembali ke kampus yang dikenal dengan sebutan ‘Kampus Tercinta’. Bahkan ia sempat melatih karate di kampusnya. Seperti sebagian dari Anda tahu, musisi legendaris ini pernah meraih gelar Juara II Karate Tingkat Nasional dan Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989 dan sempat masuk pelatnas.

Iwan sendiri pertama kali masuk kampus dan tercatat sebagai mahasiswa STP pada 1980. Ia cuma berkuliah selama enam bulan dan keluar. Pada 1981, ia kembali mendaftarkan diri menjadi mahasiswa.
“Meski keluar masuk, tapi nggak jadi sarjana juga,” ujar Iwan di atas panggung di hadapan ratusan alumni IISIP.

Bagi Iwan, dunia kewartawanan bukanlah hal baru. Selain pernah merasakan kehidupan kampus jurnalistik dan mengenal sejumlah wartawan senior, ia juga sempat menjadi kolumnis di beberapa tabloid olah raga. Namun, malam itu ia menyampaikan kegusaran pers Indonesia kini, dimana sudah menjadi “anjing penjaga” bagi pemilik media dan politik.



Dalam perjalanan karirnya, hubungan Iwan dan wartawan juga sempat mengalami pasang surut. Ia pernah diboikot sejumlah wartawan. Salah satunya terjadi pada paruh Agustus 2012. Ketika itu kalangan wartawan baik media cetak dan portal online melakukan boikot atas konser Iwan Fals yang dilaksanakan, Senin (6/8/2012) di Lapangan Yon Zipur Helvetia, Medan dalam event bertajuk Nge-TOP Bareng Iwan Fals dan kawan-kawan.

Sebenarnya saat itu kesalahan bukan langsung pada Iwan, tetapi akibat ketidakprofesionalan event organizer (EO) acara tersebut, yakni Hans Production. Mulai dari harian Kompas, Tribun Medan, Tabloid Aplaus, Topkota, Orbit, Sumut Pos dan media lainya, termasuk portal KapanLagi.com memboikot konser. Untunglah kejadian tersebut tidak berimbas pada konser-konser Iwan selanjutnya, dimana selalu diliput oleh rekan-rekan wartawan.

Minggu malam lalu (29/08/2015), Iwan kembali berkumpul bersama teman-teman wartawan di Space Food & Entertainment, Dim Sum Festival, Kemang, Jakarta Selatan. Di acara reuni yang juga menghadirkan pentolan God Bless, yakni Ian Antono dan Achmad Albar ini, Iwan menyanyikan beberapa lagu hitsnya: Kesaksian, Omar Bakrie, dan Sore Tugu Pancoran. Sementara lagu Pers Nggak Ada Matinya merupakan lagu yang khusus dilantunkan di reuni IISIP.

Penciptaan lagu Pers Nggak Ada Matinya cukup menarik. Sebegaimana penulis kutip dari akun Facebook @CocomeoCacamarica, beberapa hari sebelum reuni, para alumi IISIP yang notabene teman sekampus Iwan mengunjungi rumah sang legenda di Lewinanggung, Cimanggis, Jawa Barat. Mereka ngobrol di halaman rumah yang asri dan sejuk itu.

Seorang teman Iwan, yakni Raja Pane, meminta Iwan membuatkan lagu untuk tema reuni. "Wan, elu harus nyanyi tema kita, Pers Nggak Ada Matinya. Saatnya kita berbuat agar Pers tidak terbunuh dimakan zaman".
Iwan kemudian mengambil dua gitar miliknya. Sambil memegang gitar, juga mencari lirik. Saat itu juga ada teman Iwan, yakni Amazon Dalimunthe yang membantu menuliskan lirik di sebuah kertas dengan penanya.
Lirik pun tercipta. Selain dicatat dalam selembar kertas, Iwan sempat mencatatkan lirik di handphonenya. Sementara irama yang sebelumnya dilantunkan lewat gitar sempat direkam oleh Azmi Alqamar, salah seorang rekan Iwan juga yang kuliah di IISIP.

Lagu mengenai dunia kewartawanan sebenarnya bukan baru kali itu saja diciptakan Iwan. Ia pernah membuat lagu Matinya Seorang Penyaksi. Lagu ini merupakan lagu yang didedikasikan khusus untuk almarhum wartawan Udin atau Fuad Muhammad Syafruddin dan para wartawan di seluruh Indonesia.

Matinya seorang wartawan bukan matinya kebenaran
Tercatat dengan kata sakti, menjadi benih yang murni
Hari ini kisahmu abadi berbaringlah kawan
Berbaringlah dengan tenang...

Sabtu, 29 Agustus 2015

Mushola Grand Indonesia: Kecil Tapi Nyaman



Begitulah kesan yang saya dapatkan ketika pertama kali masuk ke musholla Grand Indonesia. Kecil, tapi nyaman. Yang lebih penting lagi, begitu masuk ke ruang musholla, nggak tercium bau apek atau bau yang nggak sedap yang mampir di hidung kita.



Ada tanda di lorong sebelum masuk musholla (foto kiri). Inilah pintu masuk jamaah pria. Musholla ini memang membedakan pintu masuk pria dan wanita.
Grand Indonesia punya dua musholla. Musholla pertama berada di lantai 3, sedang yang kedua ada di basement. Dua-duanya bagus. Meski berada di basement, pihak pengelola gedung nggak menyia-nyiakan keberadaan musholla, karena tetap diberikan penyejuk udara di sekitar ruang musholla. Hal itu jelas membuat nyaman mereka yang melakukan sholat.

Ruang musholla di lt 3 berada dekat dengan toko buku Gramedia. Jadi kita nggak bisa punya alasan lupa sholat atau musholla-nya terlalu jauh. Musholla di Grand Indonesia justru malah enak banget buat mereka yang gila baca buku dan ketika sudah waktunya sholat, tinggal jalan sedikit ke arah Barat.



Setelah pintu masuk, ada petugas penitipan barang. Tempat wudhunya bersih.

Di ruang musholla ada seorang penjaga penitipan barang dan sepatu. Petugas ini bertujuan mengatur agar sandal-sandal atau sepatu-sepatu nggak berseliweran di pintu masuk musholla. Kan nggak enak kalo begitu masuk ke musholla, banyak sepatu yang nggak teratur. Keberadaan petugas penitipan barang ini mirip musholla yang ada di Pacific Place atau mal Pondok Indah.


Ruang utama sholat.

Musholla dibagi dua. Jamaah pria dan wanita dipisah melalui tembok. Tempat wudhunya pun praktis dibagi dua. Jadi nggak ada jamaah pria yang ngintip wanita yang lagi wudhu atau berdandan setelah sholat kayak kebanyakan musholla di mal-mal atau di hotel-hotel.

Nah, sekarang kalo ke Grand Indonesia, nggak perlu kawatir buat sholat. Window shopping go ahead! makan2 hayu! Kalo pas waktunya sholat, ya sholat.

Happy praying, guys!




all photos copyright by Brillianto K. Jaya

Lagi! Keajaiban Sedekah



Hujan baru saja berhenti. Namun malam telah larut. Saya menunda pulang ke rumah cuma menunggu hujan behenti. Maklumlah, hari ini saya nggak bawa kendaraan.

Di ruang kantor tinggal tiga orang teman saya. Dua orang teman saya kayaknya nggak tertarik buat pulang, meski hujan sudah reda. Tinggal seorang lagi, yang kelihatannya sudah pakai jaket dan membawa helm motor.

"Mau pulang ya, Pak?" tanya saya.

"Iya, kenapa?" tanya dia balik.

"Saya boleh nebeng nggak sampai Tugas?"

Tugas adalah sebuah nama tempat di depan papan nama Kawasan Industri Pulogadung yang mengarah ke jalan Pemuda. Dahulu kala, sekitar tahun 80-an, nama ini (maksudnya kata Tugas) sebenarnya buat menggantikan tempat dimana banyak orang turun dari kendaraan umum untuk melakukan tugas atau kerja di pabrik yang berada di Kawasan Industri Pulogadung.

Bagi yang belum mengenal Kawasan Industri Pulogadung, baiklah saya sedikit cerita. Bahwa tahun 80-an, pemerintah pusat melokalisasikan sebuah kawasan buat industri yang memasok aneka produk barang maupun jasa di ibukota Jakarta. Maka oleh pemerintah, Pulogadung dijadikan salah satu lokasi kawasan industri.

Sampai dengan tahun 90-an, perusahaan-perusahaan industri masih menjalankan aktivitasnya di kawasan Pulogadung. Nggak heran kalo asap pabrik maupun bunyi aktivitas pabrik setiap hari akan kita temui, entah itu pagi hari maupun malam hari. Nggak heran saat kawasan Pulogadung masih produktif, banyak sekali buruh-buruh yang turun di perempatan antara jalan Pemuda, Pulogadung, dan Klender. Perempatan itu dikenal sebagai perempatan Tugas.

Pada tahun 2000-an, pemerintah merelokasikan industri-industri yang berada di Kawasan Industri Pulogadung ke Cikarang. Nggak heran kalo saat ini pabrik-pabrik yang dahulu sempat aktif, sudah kosong melompong. Namun ada beberapa perusahaan yang berkantor di kawasan Industri. Buat perusahaan yang dahulu produksinya di kawasan Pulo gadung, pabriknya cuma dijadikan pergudangan saja. Meski buruh-buruh pabrik sudah nggak banyak, namun kata Tugas masih terus bersemi.

"Waduh, saya nggak lewat Tugas Pak Brill. Maaf ya."

Oleh karena teman saya nggak bisa, terpaksa saya harus naik ojek menuju halte busway dan kemudian dilanjutkan naik Metromini P-47. Namun sebelum saya siap-siap meninggalkan meja kerja, teman saya tadi balik lagi.

"Kalo mau ikut sampai Tugas, hayo deh, Pak. Saya lewatikan motor saya ke sana," ujarnya.

Alhamdulillah. Rezeki nggak kemana-mana.

Dalam perjalanan menuju ke Tugas, teman saya ini bercerita banyak soal keajaiban shodaqoh. Bahwa Allah itu luar biasa. Dia Maha Mengetahui kebutuhan manusia. Bayangkan, cerita teman saya, ketika saya menjual motor buat membayar cicilan rumah, Allah memberikan motor kembali lewat orang lain.

"Jadi ucapakan Ustadz Yusuf Mansyur itu benar!" kata teman saya. "Berikan semuanya, Allah akan memberikan kita cash. Itu benar, Pak!"

Kisah jual motor lama diganti motor baru ini berawal keinginan teman saya yang ingin melunasi cicilan rumah. Agar cicilannya selesai, ia mencoba menjual motor bebeknya seharga Rp 2,5 juta kepada teman. Tiba-tiba ia mendapatkan hidayah. Dari uang pembelian motor, Rp 2 juta-nya di-shodaqoh-kan ke masjid. Sisanya yang Rp 500 ribu, baru ia gunakan buat cicilan motor.

"Waktu itu buat saya yang penting ada uang buat makan," katanya.

Setiap hari setelah motor dijual, teman saya jalan kaki dari Pulogadung Trade Center (PTC) ke kantor di jalan Rawa Teratai di Kawasan Industri Pulogadung, yang jaraknya 2 kilometer. Ternyata Allah berkehendak lain.

"Saya cuma dikasih waktu jalan kaki selama kurang lebih seminggu," ungkapnya. "Allah kayaknya berkeinginan saya harus tetap punya motor, karena dengan motor saya bisa lebih produktif."

Benar saja. Seminggu setelah motor dijual, seseorang tanpa ada angin apa memberikan motor baru kepada teman saya ini. Orang tersebut sama sekali tidak minta uang, maupun keinginan terselubung dibalik pemberian itu. Ia ikhlas memberikan motor kepada teman saya.

"Saya yakin banget, ini gara-gara saya ikhlas men-shodaqoh-kan uang saya ke masjid, padahal uang hadil penjualan motor itu seharusnya bisa langsung menutupi cicilan rumah. Tapi Allah Maha Mengetahui umat-Nya."

Perkara dikasih oleh orang, ternyata bukan baru kali itu saja. Teman saya pernah juga diberikan berkilo-kilo buah segar atau makanan. Ketika saya tanya kenapa bisa begitu, ternyata ia memang sering memberi pada orang lain. Ber-shodaqoh. Memang luar biasa shodaqoh. Ajaib!

Saya baru mengerti, kenapa ketika seharusnya teman saya nggak lewat Tugas dan kembali lagi mau mengantarkan saya ke Tugas, ini juga bagian dari shodaqoh. Teman saya mau memberikan waktu dan tenaganya pada saya.

Dari percakapan selama perjalanan ke Tugas dan sikap meluangkan waktu serta tenaga yang dilakukan oleh teman saya itu, saya jadi belajar banyak arti shodaqoh. Bahwa kita sebagai manusia nggak boleh pelit. Entah itu pelit pada materi, waktu, dan tenaga. Allah pasti sangat jauh lebih tahu dari kita, apakah dengan memberi materi kita nantinya akan miskin atau malah sebaliknya menjadi kaya, atau dengan meluangkan sedikit waktu dan tenaga mengantarkan teman. Asal semua dijalankan dengan penuh keikhlasan atau tanpa pamrih, Insya Allah kita akan diberikan pengganti dari Allah secara cash.

Mushola di Electronic City, SCBD, Sudirman, Jakarta



Buat Anda yang kebetulan belanja di Electronic City, SCBD, Sudirman, Jakarta Pusat, nggak perlu risau cari musholla. Di gerai yang khusus menjual produk-produk elektronik ini tersedia dua musholla.

Musholla pertama ada di samping pintu keluar, tepatnya menghadap ke Pacific Place. Di musholla pertama ini terdapat dua buah keran buat wudhu yang ada di dalam, tetapi nggak ada tempat buat buang wajat alias WC. Sajadah yang tersedia di situ cukup buat dua baris jamaah, dimana satu barisnya terdiri dari lima sampai enam orang. Tapi kalo ada wanita yang mau sholat, baris kedua nggak bisa dipergunakan buat shaft laki.


Terdapat 2-3 mukena yang tergantung di tembok. Jadi nggak perlu sedih kalo muslimah lupa bawa mukena.

Musholla kedua berada di basement. Kalo ingin menuju ke musholla ini, Anda kudu melewati lorong di belakang food court. Lorong ini juga melewati WC dan kemudian Anda melewati tangga.

Di musholla yang berada di basement ini terdapat empat keran yang terpisah. Sementara jumlah shaft sama dengan musholla yang ada di dekat pintu keluar. Yang membedakan cuma suhu udara. Oleh karena berada di basement, maka suhu udara musholla ini relatif panas dan pengap. Makin berkeringat kalo yang sholat bejibun. Memang sih di musholla di pintu depan juga cuma ada satu kipas angin, tetapi udara masih bisa masuk lewat pintu yang kebetulang menghadap ke jalan SCBD.



Anyway, baik di basement maupun di pintu keluar, Electronic City, SCBD luar biasa. Gerai ini menyediakan dua musholla. Terus terang saya nggak tahu siapa pemilik toko ini dan apa agamanya. Yang pasti, orang Islam yang konglomerat pun belum tentu punya pikiran membuatkan dua musholla sekaligus dalam satu toko.

all photos copyright by Brillianto K. Jaya

Jumat, 28 Agustus 2015

Tulisan Karlsruhe-Jerman di Republika

Kala melancong ke Jerman, salah satu kota yang saya jelajahi adalah Karlsruhe. Nah, tulisan saya mengenai Karlsruhe ini saya kirimkan harian Republika beberapa waktu lalu. Berikut tulisan utuh yang dimuat di Republika Online (ROL), dimana diambil dari tulisan yang sudah diterbitkan di koran.

Selamat membaca!



Sabtu, 04 April 2015

Bekasi Punya 3 Lokasi Tetap CFD, Jakarta?

Boleh jadi saya ketinggalan zaman. Betapa tidak, saya baru tahu, car free day (CFD) di Bekasi kini sudah di tiga lokasi. Awalnya hanya di sepanjang jalan Ahmad Yani sampai menyebrang ke fly over Summarecon Bekasi. Namun kini, Bekasi punya 3 lokasi untuk hari bebas kendaraan bermotor, yakni di jalan Ahmad Yani, Harapan Indah dan Galaxy.

Hebat juga Bekasi bisa menyelenggarakan hari bebas kendaraan bermotor secara rutin di 3 lokasi. Berbeda di Jakarta. Jakarta hanya punya satu lokasi rutin CFD, yakni di Thamrin-Sudirman. Sementara lokasi-lokasi lain yang pernah melakukan CFD, yakni jalan Pemuda, jalan Rasuna Said, maupun jalan Soeprapto tidak dibuat rutin tiap minggu.



Kamis, 19 Februari 2015

KUPAT TAHU SBY

Sebenarnya nama warung kupat tahu ini adalah Kupat Tahu Magelang AA. Namun oleh karena Presiden Susilo Bambang Yoedoyono sering mampir buat makan di warung ini, maka namanya berubah menjadi warung Kupat SBY.

By the way, buat Anda yang belum pernah makan dan merasakan apa itu kupat tahu, saya akan kasih bocoran sedikit ya. Bahwa kupat tahu itu adalah makanan khas Magelang, Jawa Tengah. Makanan ini terdiri dari ketupat, telor dadar yang dihancurkan, toge, irisan tahu, dan tentu saja guyuran gula jawa yang sudah dicampur dengan air, dimana berfungsi sebagai kuah dari ketupat itu.

Di Jakarta ini nggak banyak warung yang menjual kupat tahu. Sepanjang pejalanan saya dari rumah di Cempaka Putih ke Pulogadung, saya baru menemukan satu warung yang menjual kupat tahu. Lokasinya di seberang kantor Telkomsel cabang jalan Pemuda. Tapi warung ini baru buka sore menjelang malam sampai dini hari. Siang hari, warung ini nggak jualan.

Nah, Kupat Tahu Magelang AA ini rupanya mengisi kekosongan penjual kupat tahu. Nggak heran kalo cabang AA banyak. Kalo lihat di daftar menu, Kupat Tahu Magelang AA sudah punya 13 cabang, mulai dari Patal Senayan sampai BSD. Ada pula cabangnya di Kelapa Gading. Salah satu cabangnya berlokasi di Cilangkap, yakni di jalan Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.