Sabtu, 04 April 2015

Bekasi Punya 3 Lokasi Tetap CFD, Jakarta?

Boleh jadi saya ketinggalan zaman. Betapa tidak, saya baru tahu, car free day (CFD) di Bekasi kini sudah di tiga lokasi. Awalnya hanya di sepanjang jalan Ahmad Yani sampai menyebrang ke fly over Summarecon Bekasi. Namun kini, Bekasi punya 3 lokasi untuk hari bebas kendaraan bermotor, yakni di jalan Ahmad Yani, Harapan Indah dan Galaxy.

Hebat juga Bekasi bisa menyelenggarakan hari bebas kendaraan bermotor secara rutin di 3 lokasi. Berbeda di Jakarta. Jakarta hanya punya satu lokasi rutin CFD, yakni di Thamrin-Sudirman. Sementara lokasi-lokasi lain yang pernah melakukan CFD, yakni jalan Pemuda, jalan Rasuna Said, maupun jalan Soeprapto tidak dibuat rutin tiap minggu.



Kamis, 19 Februari 2015

KUPAT TAHU SBY

Sebenarnya nama warung kupat tahu ini adalah Kupat Tahu Magelang AA. Namun oleh karena Presiden Susilo Bambang Yoedoyono sering mampir buat makan di warung ini, maka namanya berubah menjadi warung Kupat SBY.

By the way, buat Anda yang belum pernah makan dan merasakan apa itu kupat tahu, saya akan kasih bocoran sedikit ya. Bahwa kupat tahu itu adalah makanan khas Magelang, Jawa Tengah. Makanan ini terdiri dari ketupat, telor dadar yang dihancurkan, toge, irisan tahu, dan tentu saja guyuran gula jawa yang sudah dicampur dengan air, dimana berfungsi sebagai kuah dari ketupat itu.

Di Jakarta ini nggak banyak warung yang menjual kupat tahu. Sepanjang pejalanan saya dari rumah di Cempaka Putih ke Pulogadung, saya baru menemukan satu warung yang menjual kupat tahu. Lokasinya di seberang kantor Telkomsel cabang jalan Pemuda. Tapi warung ini baru buka sore menjelang malam sampai dini hari. Siang hari, warung ini nggak jualan.

Nah, Kupat Tahu Magelang AA ini rupanya mengisi kekosongan penjual kupat tahu. Nggak heran kalo cabang AA banyak. Kalo lihat di daftar menu, Kupat Tahu Magelang AA sudah punya 13 cabang, mulai dari Patal Senayan sampai BSD. Ada pula cabangnya di Kelapa Gading. Salah satu cabangnya berlokasi di Cilangkap, yakni di jalan Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.

Rabu, 18 Februari 2015

Kekesalan Acho Stand Up Comedy pada The Green Pramuka

Beberapa minggu ini Muhadkly Acho geram. Pasalnya, apartemen yang ia tinggali sekarang tidak sesuai dengan janji-janji promosi. Awalnya ia tertarik membeli, karena pihak marketing menjanjikan hidup nyaman dengan lingkungan asri. Siapa yang tak tergiur, jika di atas halaman seluas 10,3 hektar lahan, para penghuni akan menikmati sumber oksigen di tengah hiruk pikuk kota Jakarta. 


Namun, promosi tinggal promosi. Apartemen yang berlokasi di pojok jalan Pramuka ini sekadar menjual kata “Green” sebagai nama apartemennya. Hal ini tak beda dengan yayasan-yayasan rokok yang belakangan ini gencar menjual kampanye “green” atau membiayai pendidikan sekolah tak mampu atau beasiswa S2 maupun S3, setelah tega “membunuh” banyak orang melalui produk rokok.

Tulisan di brosurnya tetap akan ada lahan hijau 10 hektar, eh sekarang mereka bangun tower lagi,” ujar pria yang dikenal sebagai comic stand up comedy dan akrab disapa Acho ini.
142432551478267940

Soal lahan hijau di apartemen The Green Pramuka, saya pernah menulis di blog pada 30 Maret 2010. Judulnya: “Demi Akses yang Mudah, Tega Memotong RTH”. Dalam blog tersebut, sebagai warga yang peduli ruang terbuka hijau (RTH) memprotes, bahwa di saat DKI Jakarta kekurangan lahan hijau untuk menyebarkan oksigen, developer The Green Pramuka tega mengambil lahan hijau demi kepentingan mereka sendiri. Rupanya soal janji palsu soal lahan hijau yang pernah saya kritisi, tidak sempat dibaca oleh Acho dan mayoritas penghuni apartemen. Walhasil, warga penghuni apartemen pun pasrah melihat developer apartemen ini membangun tower-tower baru di lahan hijau.

Tadi baru soal lahan hijau, belum masalah lain yang dihadapi penghuni. Saya baru tahu dari Acho, bahwa tinggal di apartemen The Green Pramuka ini tak senikmat yang dibayangkan. Meski sudah membayar, makan, dan tidur di apartemen, tetapi warga yang menghuni tak memiliki kebebasan, sebagaimana layaknya pemilik rumah sendiri. Sebagai penghuni, Anda tak bisa sembarangan memasang kitchen set, wall paper, exhaust van, maupun braket untuk televisi. Jika mau memasang, Anda akan dikenakan tarif. Pihak Building Management akan memberikan tarif ke penghuni. Tarif mitra apartemen dengan tarif kontraktor dari luar beda.

Untuk memasang wall paper di ruangan, warga apartemen The Green Pramuka dikenakan tarif Rp 1 juta. Harga itu untuk kontraktor dari luar. Sementara untuk mitra apartemen, harganya jauh, yakni sebesar Rp 150 ribu. Apa lagi? Memasang kitchen set. Dengan menggunakan mitra apartemen, warga hanya dikenakan tarif Rp 350 ribu. Tetapi jika menggunakan kontraktor dari luar, siap-siap merogoh kocek senilai Rp 2,5 juta.

Biar nggak dihitung per item, katanya (pihak manajemen Green Pramuka-pen), mending langsung paketan renovasi, yakni 30 jutaan. Itu untuk full renovasi. Ya, ngamuklah gue,” ujar Acho yang saat ini tercatat sebagai salah satu pengurus paguyuban warga apartemen Green Pramuka.

Sudah tiga kali di Sabtu ini, sejumlah warga penghuni apartemen melakukan demo. Mereka berjalan menuju ke kantor customer service (CS). Bahkan Acho sendiri giat membuat konfrensi pers untuk mengundang wartawan ke TKP. Selain janji-janji surga soal wilayah hijau dan protes tarif pemasangan yang mahal, sejumlah warga tersebut juga menuntut kejelasan sertifikat yang belum juga diserahkan ke pemilik apartemen. Lalu, menolak penerapan tarif parkir sepihak, dan beberapa tuntutan lain.

1424325996294147702

Meski kita sudah bayar Rp 200 ribu untuk mobil dan Rp 100 ribu untuk motor, tetapi penghuni masih tetap dimintai uang parkir per jam,” protes Dion Achilles, Koordinator Aksi Damai Warga Apartemen The Green Pramuka dalam pers release yang diberikan pada para wartawan 14 Februari 2015 lalu. Selama belum ada itikad baik dari pengelola, selama itu juga kami tidak bersedia membayar apapun dari pengelola”.

Sejumlah media cetak sudah sempat menulis permasalahan di Apartemen The Green Pramuka ini, termasuk diberitakan di tvOne. Namun, sampai berita ini saya posting, pihak pengelola masih bersikeras pada pendiriannya. “Keberanian” pihak pengelola kabarnya, karena di-backing oleh oknum pejabat pemerintah. Terbukti, tiap demo, pasukan kepolisian bersiaga di lokasi, selain puluhan satpam.

Polisinya pegang paras panjang semua,” kata Acho.

Sabtu, 27 April 2013

Ngopi Bareng Endriarto Sutarto Ngerumpi soal Konflik TNI Polri sampai Jokowi


Petang lalu, tokoh yang saya jumpai adalah mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia (Panglima TNI) periode 2002-2006, Endriarto Sutarto. Di sebuah ruang VIP, sambil menyeruput kopi, Jenderal lulusan AKABRI 1971 ini berkisah tentang berbagai hal.

Kang Jaya (KJ): TNI-Polri reme lagi nih pak?

Endriarto Sutarto (ES)Ah, itu anak muda-muda. Masa gara-gara melanggar lalu lintas, trus ditembak. Saat ditanya (oleh anggota TNI), apakah penembaknya (oknum polisi) sudah diproses hukum, katanya (pihak kepolisian) sudah. Eh, ternyata belum. Ya, marahlah (anggota TNI).

KJSekarang bapak di Nasdem dan jadi Ketua Dewan Pertimbangan Partai Nasdem. Bapak ngerasa nggak sekarang Nasdem digembosi?

ESSaat ini memang beritanya soal itu. Padahal nggak ada digembosi. Itulah kehebatan Harry Tanoe, sehingga orang-orang melihat Nasdem digembosi dan ia membawa puluhan ribu orang ke Hanura. Padahal faktanya nggak begitu. Banyak juga orang yang masuk ke Nasdem, tetapi memang berita digembosi lebih banyak dimunculkan.

***

Endriarto mengambil kue yang ada di meja. Kue bolu. Selain kue bulu, ada pula aneka kue lain yang disiapkan sore ini. Sambil mencuil-cuil kue, pria yang saat mantan Presiden Soeharto lengser pada 21 Mei 1998 menjabat Komandan Paspampres ini mengajak saya mencicipi kue.

KJ: Bagaimana Bapak melihat Jokowi?

ES: Warga Jakarta menaruh harapan pada dia. Memang masih banyak PR yang harus dikerjakan, seperti kebijakan ganjil-genap. Tetapi yang membuat percaya warga adalah, Jokowi berjanji tidak ada sepersen pun uang Pemda yang dikorupsi olehnya. Dan rakyat percaya itu.

KJ: Seperti Presiden Hugo Chavez ya pak?

ES: Vanezuela itu kaya dengan minyak. Uang hasil penjualan minyak itu nggak buat dirinya atau dibagi-bagi ke anak atau orang-orang terdekatnya, tetapi digunakan untuk kemakmuran rakyat. Orang-orang miskin dibuatkan rumah. Sandang, pangan, dan papan untuk orang-orang miskin dipenuhi oleh Chavez ini.

KJ: Sebelum Jokowi, saya dengar dulu Basofi Sudirman begitu ya pak?

ES: Iya. Percaya nggak percaya, pada saat Megawati dan Basofi ke Jawa Timur, yang dikerubuti warga itu justru malah Basofi. Ia dicintai rakyat. Tapi karena memang pada zaman Orba tidak ada yang boleh lebih popular daripada pak Harto, jadi ya popularitasnya tidak begitu menonjol.

KJ: Sekarang kemana ya pak Basofi itu?

ES: Iya, saya juga nggak tahu.

KJ: Baik, sekarang balik lagi ke Jokowi. Gubernur DKI Jakarta yang baru ini akan menerapkan kebijakan ganjil genap. Gimana komentar Bapak?

ES: Sepertinya kebijakan tersebut harus dikaji ulang. Saya kasih contoh. Seandainya ada orang dari Bandung pakai nomor genap pulang ke Jakarta. Ketika di Jakarta, yang diberlakukan adalah nomor ganjil. Apakah orang ini harus kembali ke Bandung atau nunggu keesokan hari agar supaya nomor mobil genapnya bisa jalan? Contoh lagi, ada seorang yang berpakaian dasi dan jas komplet. Dia tanya, saya tidak pakai mobil pribadi, lalu naik apa? Kalau naik kendaraan umum seperti bus, Anda sudah tahu kondisi bus di Jakarta seperti apa. Paling-paling orang ini naik taksi. Tapi apakah selamanya naik taksi? Jadi, saya pikir harus dicarikan solusinya yang pas.

KJ: Soal Jokowi lagi nih, Pak. Ternyata kepopuleran Jokowi nggak ngaruh buat memenangkan Pilgub di Jabar ya pak?

ES: Hahaha…iya.

Seperti Bloggers ketahui, PDIP memanfaatkan popularitas Jokowi. Partai pimpinan Megawati Soekarnoputri ini mengharap mendulang suara dalam pemilihan Gubernur, baik di Jawa Barat maupun di Sumatera Utara. Namun, ternyata kepopuleran Jokowi di DKI Jakarta tidak mempengaruhi suara di dua provinsi tersebut. Kader-kader PDIP tetap kalah di pemilihan Gubernur.

Tiba-tiba seorang Produser menghampiri Endriarto. Kue yang sedang dicuil-cuil olehnya, kemudian diletakkan di atas meja.

Pak, pemain band sudah siap. Bapak mau coba latihan dulu?

OK!

Ngopi sore kami pun berakhir. Saya dan pak Endriarto masuk ke dalam studio. Setelah berkenalan dengan anggota band, pak Endriarto pun latihan menyanyi. Tentu, lagunya bukan milik Basofi Sudirman, Tidak Semua Laki-Laki. Pun juga bukan lagu SBY yang saya sendiri nggak ada yang kenal…

Selasa, 05 Maret 2013

Kata-kata Romantis Mario Teguh pada Istri Sebelum Shooting

Setiap kali shooting, Mario Teguh selalu melakukan ritual. Bukan meletakkan sesajen di pojok ruang dengan aneka bunga berikut dupa, tetapi ritual yang amat romantis. Dan ritual ini dilakukan kebanyakan di depan para penonton Mario Teguh Golden Ways (MTGW) di Grand Studio, Metro TV.

Wish me luck, love.”

Itulah kata-kata Mario Teguh. Romantis. Terlebih lagi, Mario tak cuma mengucapkan kata-kata tersebut. Namun, pria yang baru saja merayakan ulangtahun ke-57 tahun pada 5 Maret kemarin ini mengecup kening istrinya, Linna.

Good luck, honey,” ujar Linna sambil mencium tangan Mario.

Meski sudah shooting ratusan episode, ritual Mario Teguh itu selalu dilakukan. Kapan terakhir kali Bloggers mengecup kening istri lalu meminta didoakan? Kapan terakhir kali Kompasianers mencium tangan suami dan mendoakan?

Bloggers, kata-kata ‘wish me luck’ yang diucapkan Mario itu bukan lantaran ia pernah tidak beruntung (luck) pada saat shooting. Menurut Linna, hal ini dilakukan Mario pada ibudannya, Siti Maria, saat masih hidup. Tentu saja sebelumnya mengucapkan, basmallah:  bismillaahirohmaanirohiim.

“Dulu sewaktu ibundanya beliau (Mario) masih hidup, doa ibundanya selalu beliau mintakan sebelum melakukan sesuatu hal baru,” jelas Linna. “Setelah punya istri beliau kehilangan ibunda, dan kebetulan saya selalu mendampingi beliau pada saat shooting MTGW atau seminar, atau acara apa saja, sebelum naik panggung.”

Bagi Mario, sang istri saat ini telah menjadi pengganti ibundanya yang telah wafat. Meski sosok ibudanya tak bisa tergantikan, tetapi doa istri sebelum shooting, sangat membantu dalam kesuksesan suami. Bukankah ada seorang istri setia di balik kesuksesan suami?

Bloggers, kesetiaan Linna pada Mario memang sungguh luar biasa. Hampir setiap aktivitas yang dijalankan oleh Mario, Linna hadir. Menurutnya, hampir sembilanpuluh sembilan persen hadir, kecuali ada tugas mendadak yang mengharuskan ia berada di tempat lain. Tapi itu pun tidak pernah lebih dari 2 sampai 3 jam saja.

“Itu memang janji saat pernikahan kami dulu,” ujar Linna.

Begitu cintanya Mario pada Linna, begitu pula sebaliknya. Itulah yang Linna suka pada Mario, kasih sayang. Bukan cuma pada istri, tetapi juga pada anak-anaknya, Audrey dan Marco. Apa yang dilakukan oleh Motivator yang memiliki penggemar Facebook terbesar ini tentu bisa kita jadikan contoh. Bloggers, setelah mengecup kening sang istri, Mario menutup dengan mengucap dengan lembut,

I love you as always.

Senin, 04 Maret 2013

Film “Di Balik Frekuensi”: Menggugat Praktik Monopoli Frekuensi

“Tanah, air, udara kekayaan adalah milik Negara..

Bloggers, kalimat yang dicuplik dari Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 33 ayat 3 tersebut agaknya menjadi dasar gugatan Ucu Agustin dalam film Di Balik Frekuensi. Ini sangat jelas tergambar dalam adegan pembuka di film berdurasi 144 menit ini. Nampak seorang berseragam merah yang membelakangin kamera, sedang menyusun akhir dari Pasal 33 di lantai (”dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat“), sementara di punggungnya terdapat tulisan pembukaan ayat 3 tersebut. 

Meski dalam Pasal 33 tidak terdapat kata “udara” (kalimat asli di Pasal 33: “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara“), sebagai sutradara, ia tetap merasa geram melihat realita kekinian, dimana para pemilik modal menguasai udara (yang diterjemahkan oleh Ucu sebagai “frekuensi”), terutama frekuensi di televisi. Siaran televisi tidak lagi dijalankan untuk kepentingan publik, tetapi menurutnya justru menyuarakan kepentingan para pemilik modal, dalam hal ini politikus selaku pemilik televisi. Melalui film dokumenter ini, mantan jurnalis majalah berita Pantau (kajian media dan jurnalisme yang didirikan oleh Institut Studi Arus Informasi/ ISAI) ini menggugat praktek monopoli, oligopoli, maupun praktek kartel dalam bidang pengelolaan sumber daya alam (dalam hal ini frekuensi), bertentangan dengan prinsip Pasal 33 UUD 1945.

Dua tokoh yang mewakili “gugatan” Ucu adalah Luviana dan Heri Suwandi. Luviana adalah seorang jurnalis Metro TV, stasiun televisi yang dimiliki oleh Ketua Umum Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Paloh. Sementara Heri Suwandi adalah warga korban lumpur Lapindo. Meski kasus kedua tokoh ini berbeda, namun dengan cerdik Ucu bisa menyatukan benang merah kisah, yakni dengan tema mencari keadilan. 

Dalam kasus Luviana, Ucu memperlihatkan perjuangan karyawan Metro TV itu berjuang mencari keadilan. Ia mencoba membimbing penonton untuk bersama-sama melihatperjalanan Luviana, baik ketika berdemo di depan kantor Metro TV, melakukan negoisasi dengan HRD, sampai berjumpa dengan Surya Paloh di kantor Nasdem. Semua peristiwa tersebut terdokumentasi secara detail oleh sang sutradara.

Bloggers, nampak sekali “kerajinan” Ucu mendokumentasikan perjalanan Luviana ini, sampai-sampai ia juga mendokumentasikan ketika Luviana dicegat petugas keamanan di Metro TV melalui kamera tersembunyi. Namun, ada juga kamera yang dengan sengaja disembunyikan di dalam tas Luviana, agar pihak keamanan Metro TV tidak curiga ada “orang luar” menyelinap masuk ke dalam kantor Metro TV. 

“Kerajinan” Ucu dalam mengumpulkan footage (stok gambar) terlihat pada dokumentasi Heri Suwandi. Sutradara wanita ini “berhasil” mengumpulkan footage sejak Hari melakukan ruwat mandi lumpur di lokasi utama lumpur Lapindo, sampai dokumentasi perjalanannya dari Porong, Sidoarjo di beberapa lokasi, sejumlah footage Hari mengusir jurnalis tvOne, serta footage interview Hari dengan tvOne di program Apa Kabar Indonesia (AKI) Malam.

Ada sekitar 344 footage yang Uci miliki. Jumlah footage yang banyak ini kemudian ia pengal-penggal menjadi 144 menit untuk durasi film yang diproduseri Ursula Tumiwa ini. Selain footage dari hasil shooting-nya sendiri, Ucu juga mengambil stock shot cuplikan dari YouTube.

Untuk footage-footage saya juga dibantu oleh KPI,” jelas Ucu. Selain Ford Foundation, film ini juga disokong oleh KPI.

Di Balik Frekuensi memberikan sudut pandang pada penonton mengenai kebijakan frekuensi yang menurut Ucu telah dimonopoli segelintir orang. Dalam riset yang dimunculkan dalam grafis di film ini, ia menyebutkan hanya 12 orang saja yang mengusai media di tanah air. Mereka adalah Erik Tohir dari Group Mahaka, Jacob Oetama (Kompas-Gramedia), Pia Alisjahbana (Femina Group), Adiguna Sutowo (MRA Group), Goenawan Muhammad (Tempo Group), Harry Tanoesoebroto (MNC Group), Surya Paloh (Media Group), Aburizal Bakrie (VivaNews: ANTV, tvOne, dan VivaNews.co.id), Fofo Sariaatmadja (PT. Elang Mahkota Komputer/ Emkom), Dahlan Iskan (Jawa Pos Group), Chairul Tanjung (TransCorp), dan Mochtar Riady (Lippo Group).

Pemilik media itu-itu saja, ujar Ezki Tri Rezeki Widianti dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang muncul di film ini. “Kalau di KPI kami mengatakan hanya lima orang yang memiliki media di Indonesia dari segitu banyak televisi. Sebenarnya menurut Undang-Undang Penyiaran itu melanggar ya.”

Saat interview dengan Ezki, Ucu menyelingi footage iklan Nasdem dan grafis jumlah iklan Partai Nasdem periode awal Oktober sampai akhir November 2012 di MNC Group, baik di RCTI, MNC, Global, dan juga di Metro TV. Juga grafis jumlah iklan Partai Golkar yang muncul di stasiun televisi milik Bakrie Group, yakni tvOne dan ANTV. 

Bloggers, untuk menguatkan gugatan terhadap monopoli frekuensi, Ucu juga sempat mewawancarai Peneliti Senior Bidang Inovasi & Perubahan Sosial Universitas Manchester Yanuar Nugroho. Menurut Yanuar, ia tidak bisa membayangkan pada Pemilu 2014 nanti, dimana media-media yang seharusnya bisa lebih objektif, tetapi dianggap menjadi subjektif, karena media-media dikuasai oleh para politikus.

Media jadi kanal kekuasaan. Manifestasi kekuasaan diwujudkan ke dalam isi tayangan,” tambah Yanuar. “Implikasinya bukan cuma frekuensi saja, tetapi apa yang ditonton oleh publik, warga, bukan lagi apa yang layak mereka tonton, melainkan mereka tidak punya pilihan lain selain nonton itu. Nampaknya pemerintah kita tidak punya visi tentang media. Yang terjadi adalah penggabungan antara pembiaran dan ketidakberdayaan di depan kekuasaan bisnis.”

Sebenarnya persoalan penguasaan frekuensi oleh pemilik modal memang bukan cuma di Indonesia. Di negara-negara maju pun monopoli frekuensi juga dilakukan. Sebut saja News Corp yang menguasai puluhan media, mulai dari media cetak, elektronik, film, dan social media. Pada 2005, perusahan yang dimiliki Rupert Murdoch ini sempat membeli MySpace seharga US$ 580 atau saat itu sekitar Rp 5,2 triliun. Selain NewsCorp, konglomerasi media di dunia juga dikuasai Viacom, Time-Warner, Bertelsmann Inc., dan juga Disney. Namun agaknya Ucu ingin memotret penguasaan frekuensi di tanah air yang dianggap tidak sesuai dengan semangat UUD 1945 Pasal 33 itu.

Tidak ada sama sekali motif politis di balik film ini,” papar Ucu yang penulis hubungi via telepon (Juma’at, 22/2/2013) sore ini. “Kebetulan sebelum saya pernah membuat film tentang permasalahan media berdurasi 18 menit, tetapi waktu itu tidak fokus.”

Di Balik Frekuensi menjadi film dokumenter panjang pertama di Indonesia dengan durasi 144 menit, yang khusus mengangkat masalah media, terutama media televisi. Film produksi Cipta Media Bersama yang didukung oleh Ford Foundation dan Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) ini mulai produksi sejak 15 Desember 2011 hingga 25 November 2012. Pada 17 Januari 2013 lalu, Di Balik Frekuensi sempat screening di Blitz Megaplex.

Ucu Agustin sendiri bukanlah nama baru di dunia film dokumenter. Nama wanita lulusan IAIN Syarif Hidayatullah jurusan aqidah/ filsafat ini sudah popular di kalangan indie film maker. Jauh sebelum Di Balik Frekuensi, wanita kelahiran Sukabumi, 19 Agustus 1976 ini sudah memproduksi film-film dokumenter berkualitas. 

Film dokumenter pertama wanita yang selalu mengangkat isu sosial ini berjudul Death in Jakarta. Film berdurasi 28 menit ini berkisah tentang pengalaman fakir miskin ketika ada keluarga yang meninggal. Death in Jakarta diproduksi setelah terpilih sebagai satu dari empat skenario terbaik di Jakarta International Film Festival (JIFFEST) Script Development Competition. Dengan uang hadiah hasil lomba senilai Rp 25 jutam Ucu membuat film tersebut.

Film berikutnya berjudul Ragat’e Anak, yakni dokumenter tentang pekerja seks di Gunung Bolo, Tulungagung, Jawa Timur. Film ini adalah satu dari empat film dokumenter pendek yang ada dalam antologi Pertaruhan (judul internasionalnya At Stake) yang diproduseri Yayasan Kalyana Shira. Di film ini, Ucu mengugat pemerintah setempat yang menutup secara sepihak lokalisasi pada 4 Juni 2009. Film ini sempat masuk dalam sesi Panorama Documente pada festival film di Jerman.

Konspirasi Hening atau Conspiracy of Silence adalah film Ucu yang bercerita tentang malpraktek di dunia kedokteran di Indonesia. Film yang diproduseri oleh Nia Dinata ini mengambil pernyataan Kartono Mohammad, mantan ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dimana terjadi “konspirasi hening” yang membuat semua peraturan di Indonesia tentang pelayanan kesehatan menjadi tidak dapat ditegaskan. Sebagai tokoh, Ucu mengikuti kehidupan tiga orang, dua orang mengalami malpraktek dan satu orang miskin yang tidak bisa mendapatkan akses layanan kesehatan.

Satu film dokumenter lain garapan Ucu sebelum Di Balik Frekuensi adalah Batik: Our Love Story. Film yang diproduksi pada 2011 ini ia bekerjasama lagi dengan Nia Dinata. Di film ini, Nia bertugas sebagai sutradara, sementara Ucu sebagai penulis skenarionya.

Di Balik Frekuensi memakan biaya total Rp 800 juta. Namun, menurut Ucu, angka segitu termasuk biaya promosi dan roadshow yang akan dilakukan ke beberapa kota. Selain Jakarta, film ini akan diputar keliling ke Bandung, Yogya, Solo, Semarang, Malang, Sidoardjo, Surabaya, dan juga Bali.

Khusus di Sidoardjo, kami akan memutar dengan menggunakan layar tancap,” ujar Ucu, yang saat ini tengah memproduksi film dokumenter anak-anak berjudul Pertunjukan Terakhir yang akan dirampungkan sekitar April 2013 ini.

Beberapa kejutan yang menurut saya menarik di film Di Balik Frekuensi adalah ketika tiba-tiba Hari Suwandi akhirnya menyerah. Pria yang telah berjalan kaki dari Porong, Sidoardjo ke Jakarta dianggap oleh Harto Wijono sebagai penghianat perjuangan. Betapa tidak, Hari yang awalnya digambarkan antipati terhadap wartawan tvOne (kesan ini ditunjukkan dalam berberapa footage Hari mengusir jurnalis tvOne muncul di film ini), tiba-tiba muncul di acara AKI Malam. Di program tersebut ia meminta maaf kepada Aburrizal Bakrie dan keluarga Bakrie, karena selama ini telah menghina. Bagi penonton, footage permohonan maaf Hari tersebut membuahkan kesimpulan: (1) ia mendapat tekanan; atau (2) uang telah memperdayainya, sehingga perjuangannya selesai. Berbeda dengan perjuangan Luviana yang digambarkan belum selesai.

Kejutan lain adalah sosok Hary Tanoe yang di film ini masih merapat dengan Partai Nasdem. Tentu saja, bukan saja penonton yang terkejut, begitu paska produksi film ini kelar, Ucu pun ikut terkejut dengan perpindahan HT (sebutan Hary Tanoe) dari Partai Nasdem ke Partai Hanura. Meski monopoli media tetap akan dilakukan oleh HT di MNC Group, namun menurut penulis, agar film ini update, sebelum roadshow, butuh di-reedit. Namun, menurut Ucu film ini tidak diedit ulang.

Di akhir film, Ucu mencoba mengingatkan kembali penonton, pentingnya serikat pekerja. Dengan menampilkan tokoh baru, anak muda fresh graduated yang sangat berharap untuk bekerja sebagai jurnalis di Metro TV, Ucu memaparkan riset AJI Indonesia tentang kondisi serikat pekerja pers di Indonesia. Bahwa saat ini terdapat sekitar 1500 perusahan media, tetapi dari ribuan hanya ada 28 serikat pekerja pers. 

Melalui penokohan anak muda ini, Ucu seolah ingin mengatakan, betapa kasihan anak muda ini jika ia tahu fakta sesungguhnya sebagai karyawan di dunia media yang tidak memiliki serikat pekerja. Kritik inilah yang akhirnya menjadi esensi film Di Balik Frekuensi, selain masalah monopoli frekuensi. Melalui dokumenter ini pula, penonton akan diperlihatkan secara blak-blakan, untuk siapa para karyawan itu bekerja. 

Film “ARGO”: Rekayasa Sejarah Operasi Intelegen CIA di Iran

Gagasan itu lahir beberapa detik paska Tony Mendez (dibintangi oleh Ben Affleck), seorang staf khusus CIA, bercakap-cakap dengan putranya melalui telepon. Saat berkomunikasi, ia memutar kanal televisi yang kebetulan juga sedang ditonton oleh putranya. Sebuah film fiksi ilmiah berjudul Battle for the Planet of the Apes. Gagasan membuat film fiksi ilmiah itulah yang kemudian ditawarkan di depan pejabat CIA.

Awalnya, para pejabat dari CIA meragukan strategi Mendez. Harap maklum, strateginya tidak lazim. Untuk mengeluarkan staf kedutaan besar Amerika Serikat (AS) dari Iran butuh strategi yang lebih canggih. Bahwa dikisahkan, sejumlah kelompok militan Iran menyerang kedutaan besar AS. Lebih dari 50 staf disandera, tetapi ada enam staf yang berhasil melarikan diri. Mereka kemudian disembunyikan di rumah duta besar Kanada Ken Taylor (Victor Garber).

Oleh karena CIA tidak mendapatkan gagasan lain, walhasil, gagasan membuat film fiksi ilmiah palsu pun dilakukan. Guna menjalankan strateginya, Mandez meminta bantuan John Chambers (John Goodman), piƱata rias Hollywood yang sebelumnya telah bekerja sebagai penyamar untuk CIA. Lewat Chambers, Mandez juga dikenalkan pada Produser film bernama Lester Siegel (Alan Arkin). Mereka bertiga mendirikan sebuah rumah produksi palsu, dimana mereka akan membuat rencana seputar produksi film fiksi ilmiah palsu.

Argo, begitu judul film fiksi ilmiah palsu ini. Seperti juga awal ketika pertama kali presentasi ke para pejabat CIA, begitu berjumpa dengan keenam staf kedutaan besar AS, Mandez tidak begitu saja dipercaya. Mereka ragu dengan strateginya. Namun, ia akhirnya bisa meyakinkan keenam staf tersebut. Mereka pun dilatih untuk menyamar, seolah bagian dari tim produksi film fiksi ilmiah. Ada yang berperan sebagai sutradara, penata fotografi, sampai location manager. Selain jabatan, identitas mereka pun disamarkan.

Film ini dipublikasikan berdasarkan fakta yang terjadi pada akhir 1979, beberapa saat setelah Shah Iran digulingkan. Namun sebaliknya, pihak Iran merasa “kecolongan” dengan peredaran film ini. Menurut mereka, Argo bertentangan dengan fakta yang sebenarnya.

Ataollah Salmanian, aktor dan sutradara Iran, mengatakan, fakta sesungguhnya adalah, terjadi peristiwa Revolusi Islam di Iran yang terjadi pada 4 November 1979, tetapi yang menyandera bukan Tentara Revolusioner Islam. Pada kejadian penyerangan dan pengambil alihan kedutaan besar AS adalah mahasiswa. Mereka pula yang menyandera staf AS selama 444 hari. Tentara Revolusioner Islam justru yang menyerahkan 20 staf yang disandera ke Kedubes AS.

Mahasiswa yang militan ini protes, karena AS mendukung penuh diktator Shah Reza Pahlevi. Setelah digulingkan, pemimpin penggantinya, Ayatollah Khomeini, menyatakan sangat anti-AS. Saat itu, Khomeini menyebut AS sebagai The Great Satan dan Enemies of Islam. Gara-gara peristiwa tersebut dan pidato-pidato Khomeni, AS sempat melakukan tekanan diplomatik dan ekonomi dengan menghentikan impor minyak.

Iran pun tak kalah garang. Ia mendesak AS untuk memulangkan Shah Reza yang berada di New York City ke Iran. AS tidak boleh melindungi diktaktor tersebut. Shah harus meminta maaf pada seluruh warga Iran. Hal itulah yang membuat AS, terutama CIA harus putar otak untuk membuat cara membebaskan staf kedubes yang disandera. Namun akhirnya, pada 20 Januari 1981, sebanyak 52 warga AS yang disandera dibebaskan dan diserahkan langsung oleh Tentara Revolusioner Islam Iran. Bukan akal-akalan dengan gagasan memproduksi film fiksi ilmiah, sebagaimana film Argo.

Tentang membesar-besarkan peran CIA juga dikecam banyak orang. Wajar memang, karena film ini produksi Hollywood. Padahal, yang justru berperan dalam operasi penyanderaan ini adalah utusan dari Kanada di Teheran. “Ini adalah film mengenai CIA dimana agen operasi tak memiliki senjata. Heroisme akan lebih menarik bila disajikan nyata,” ujar Ben Affleck di New York Times (14 Desember 2012), seolah mengakui terdapat rekayasa fakta via Argo ini.

Menurut Salmanian, naskah untuk film Argo versi Iran sudah selesai dikerjakan. Film “tandingan” ini pun telah mendapat persetujuan dari pusat kebudayaan Iran. Jika budget produksi telah turun, shooting film pun segera dilakukan. Tentu, ini akan menarik, karena film “dibalas” dengan film. Akankah Argo versi Iran ini akan mengalami kesuksesan yang sama dengan karya Ben Affleck? Yang telah meraih dua piala untuk kategori Film Terbaik dan Skenario Adaptasi Terbaik di Academy Awards ke-85 lalu, serta meraih dua piala untuk kategori Film Terbaik dan Sutradara Terbaik di ajang Golden Globe ke-70. Kita tunggu Argo besutan Salmanian ini.